• ??? ????
  • ??? ????
  • Mutasi-mutasi Anarkhis dari Konflik Kekuasaan (Pembacaan Naskah-naskah Saini KM)

    Thu,23 February 2012 | 19:28

       


    Ken Arok: Untuk apa? Aku sendiri tidak pernah berusaha mengerti diriku.

    Kegagalan tentara Kertajaya dari kerajaan Kediri untuk mengatasi gerakan kriminalitas yang dilakukan Ken Arok dan akibat-akibatnya, membuat Lohgawe, seorang pendeta yang dihormati, mengambil inisiatif untuk menemui langsung Ken Arok. Dalam pertemuan mereka berdua, terjadi pembicaraan yang menarik.


    Lohgawe meminta Ken Arok untuk hidup bersama peradaban yang berlaku. Hidup dalam tatanan moral bersama dan ikatan-ikatan tradisi yang ada: politik, sosial maupun agama. Ken Arok menjawab bahwa dia tidak mengerti peradaban. Dia hidup di luar peradaban. Jawaban ini paralel dengan pernyataan Ken Arok yang lain, yang saya kutip sebagai cover tulisan ini. Bahwa dirinya sendiri tidak berusaha ingin tahu siapa dirinya, asal-usulnya, dan untuk apa semuanya ini. Asal-usul Ken Arok memang dinyatakan tidak jelas. Ditemukan di sebuah kuburan dan dipungut oleh seorang pencuri dari desa Pangkur. Dibesarkan sebagai perampok dan penjudi. Lalu dipungut lagi oleh seorang bandar judi dan germo pelacuran, Bango Samparan.


    Strategi Tak Terbaca dan Politik Meminjam Tangan Pola Ken Arok
    Ken Arok melakukan gerakannya dengan mendaya-gunakan kekerasan dan kejahatan sebagai modal utamanya. Sumber daya ini dimaksimalkan sedemikian rupa, dan mengelola akibat-akibat dari perbuatan yang dilakukannya untuk menciptakan situasi anarkhis. Membawa rakyat untuk berada dalam garis batas antara di dalam peradaban dengan di luar peradaban. Menggunakan perjudian dan pelacuran untuk melawan moral normatif dan pembangkangan pajak. Rakyat dibebaskan dari pajak. Tetapi sebaliknya, rakyat dihisap melalui dunia hiburan (perjudian dan pelacuran). Tidak ada yang memahami jalan pikiran maupun pola politik yang dijalankan Ken Arok, termasuk orang-orang dekatnya sendiri seperti Tita.


    Gerakan ini dilakukan Ken Arok di tengah konteks berlangsungnya konflik yang kian meruncing antara kesatrya dan kaum Brahmana sebagai konflik internal istana. Mpu Sridhara menggambarkan konflik ini dengan mengutip sebuah percakapan yang pernah dilontarkan Kertajaya:

    Mpu Sridhara: “Lihat para Brahama, mereka bernyanyi di kuil, menghabiskan minyak serta hasil pajak kita. Sedang kita kadang-kadang harus menghabiskan darah di medan perang dan setelah itu tidak mendapatkan hasil bagian pajak. Orang-orang mati tidak perlu makan dan minum.”

    Ken Arok sangat mengenal kenyataan “orang-orang mati tidak perlu makan dan minum”.  Ken Arok lalu mengubah pajak menjadi perjudian dan pelacuran, mengubah kesatrya menjadi permainan kekuasaan dalam tempurung gelap untuk mengocok biji-biji dadu, mengubah brahmana sebagai boneka yang bisa memberi baju spiritual atas kekuasaan, mengubah konflik internal istana sebagai dadu perjudian kekuasaan. Ken Arok mengikuti dengan tekun ajaran-ajaran keutamaan yang diberikan Lohgawe kepadanya, tidak untuk mengikuti ajaran itu. Melainkan justru untuk menguasai Lohgawe sendiri.


    Pola melakukan mutasi konteks ke dalam teks-teks yang dirancang sendiri oleh Ken Arok itu, pada awalnya berlangsung seperti insting seorang pemberontak. Tetapi kemudian pola ini tampak kembali berulang melalui tindakan-tindakan Ken Arok lainnya.
    Ken Arok sering ditemukan dalam keadaan tertidur, ketika kawan-kawannya tegang dalam sebuah rencana menyergapan untuk merampok. Tetapi pada saat yang tepat, Arok terbangun, dan menyampaikan analisa-analisa situasinya yang tepat, kemudian melakukan strategi penyerangan yang efektif. Strategi yang sebelumnya tidak pernah diketahui oleh orang-orang dekatnya sendiri. Hanya dirinya yang tahu.


    Pola itu berlangsung ketika Arok membunuh Mpu Gandring dengan menggunakan keris yang dibuat Mpu Gandring sendiri atas pesanan Arok. Dari sini pola “strategi tak terbaca” yang dijalankan Ken Arok kian intensif dan efektif. Arok menggunakan Lohgawe untuk semakin dekat ke pusat kekuasaan. Arok kemudian dijadikan pengawal Tunggul Ametung dari Tumapel yang berada di bawah kerajaan Kediri. Dengan menggunakan tangan Kebo Ijo (pengawal sebelumnya untuk Tunggul Ametung) dan keris yang sama buatan Mpu Gandring, Arok membunuh Tunggul Ametung dan mengawini Kendedes (permaisuri Tumapel) untuk bisa menjadi raja.
    Arok kemudian mengubah Tumapel menjadi kerajaan Singosari yang melepaskan diri dari kekuasaan Kediri untuk kemudian melawan Kediri. “Strategi tak terbaca” dan “politik menggunakan tangan orang lain” untuk menjalankan gerakan politiknya kemudian memang menjadi pola tindakan berulang yang dilakukan Ken Arok.   


    Peran Ken Dedes dan Memori Kolektif dalam Keris Kutukan
    Pola itu menjadi semacam memori kolektif,yang secara simbolik tertinggal dalam keris buatan Mpu Gandring. Memori kolektif yang tersimpan dalam keris inilah yang digunakan Ken Dedes dengan bawaan polanya yang sama.


    Keris buatan Mpu Gandring ini belum selesai dibuat, ketika Arok menggunakannya untuk membunuh pembuat keris itu sendiri. Sebelum Mpu Gandring menghembuskan napas terakhirnya, dia menyampaikan sebuah kutukan bahwa keris itu akan mengorbankan 7 keturunan Ken Arok. 7 Kutukan ini signifikan untuk dibaca sebagai memori kolektif dari politik meminjam tangan yang tersimpan dalam keris itu. Setelah kematian suaminya, Tunggul Ametung, Ken Dedes dengan sadar menyerahkan keris yang telah menghabisi nyawa Tunggul Ametung kepada anaknya, Anusapati. Ken Arok berusaha mengubah Anusapati melalui ajaran-ajaran keutamaan. Sama seperti ia menerima ajaran keutamaan dari Lohgawe yang digunakan justru untuk menguasai Lohgawe sendiri. Tetapi kemudian dengan menggunakan tangan rakyat desa Batil yang ingin melawan Ken Arok, keris Mpu Gandring itu kembali menumpahkan darah. Kali ini yang terbunuh adalah Ken Arok Sendiri.


    Peran Ken Dedes sebenarnya sangat penting dalam mendaya-gunakan memori-kolektif yang tersimpan dalam keris itu untuk melakukan perubahan kekuasaan. Tetapi karena politik lelaki sangat menguasai narasi-narasi konflik antara Kestrya dan Brahmana  dan antara Kediri dengan Tumampel, maka peran Ken Dedes yang telah mengubah kekuasaan di Jawa, menjadi tersembunyi sedemikian rupa. Ken Dedeslah yang membuat makna kutukan 7 keturunan dari Mpu Gandring menemukan realitasnya secara signifikan. Kalau Ken Dedes tidak menangkap memorik kolektif yang tersimpan dalam keris itu, maka kutukan dan perubahan kekuasaan di Jawa tidak terjadi.


    Penolakan Teologi Materialistik dari Syeh Siti Jenar
    Dalam Ken Arok, yang ditulis Saini KM tahun 1987, konflik kekuasaan antara Kesatrya dan Brahmana menghasilkan mutasi anarkhisme dalam pola strategi politik Ken Arok. Mutasi anarkhisme ini berlangsung dalam bentuk berada di luar peradaban dan membudi-dayakan kekerasan-kejahatan. Mutasi yang sama juga berlangsung pada Syeh Siti Jenar, yang ditulis Saini tahun 1986, dengan substansi dan konteks berbeda. Tenggang waktu penciptaan kedua naskah ini hanya 1 tahun.  


    Syeh Siti Jenar berada dalam peta konflik yang saling bergesekan antara Sultan Demak dengan sisa-sisa Majapahit yang dibawa Kebo Kenongo (Bupati Pengging), Hindu-Islam dan aliran-aliran dalam Islam sendiri antara Syeh Siti Jenar dengan wali-wali lain dalam lingkungan kerajaan Demak.


    Konflik-konflik ini bermutasi dalam tindakan anarkhisme terhadap pandangan-pandangan materialistik terhadap agama yang dibawa Jenar. Penolakan teologi materialistik berangkat dari anggapan bahwa manusia itu diciptakan berdasarkan pencitraan Tuhan. Sunan Giri yang memberikan apresiasinya terhadap pandangan teologi Jenar ini, menjelaskan pandangan teologi ini terhadap Sultan seperti ini:

    Sunan Giri: Tuhan tidak merupakan pribadi yang terpisah dari ciptaanNya. Ciptaan Tuhan adalah bagian dari Tuhan sendiri, seperti halnya cahaya memancar dari sumbernya.


    Konsekuensi teologis dari pandangan Jenar itu, membawa pengikut-pengikut Jenar untuk hidup dengan cara transenden dari peradaban, berbeda dengan Arok yang memilih di luar peradaban. Mereka keluar dari bentuk-bentuk materialistik dalam melihat Tuhan maupun hubungan-hubungan antar manusia. Yang terjadi kemudian adalah mistifikasi antara Tuhan-manusia, aku-kamu, kita-kami.

    Syeh Siti Jenar: Bahwa yang menyebabkan amarah iri-dengki, cemburu dan benci, tidaklah lain kecuali diriku sendiri.

    Syeh Siti Jenar: Orang lain bukanlah orang lain kalau kulihat dengan mata yang lain. Kita adalah kami, mereka adalah saya. Engkau adalah aku, Aku adalah engkau.

    Dua pernyataan Jenar di atas yang mengaburkan batas-batas aku dengan bersikap transenden terhadap peradaban, bertolak belakang dengan Arok yang tidak mau tahu apa itu peradaban, bahkan tidak perduli dengan asal-usulnya sendiri. Yang satu menghasilkan anarkhisme terhadap hal-hal yang materialistik, yang lain justru menggunakan materialisme untuk melawan dan menguasai dengan susunannya sendiri.

    Malaikat Jibril: Sudahlah Siti Jenar, rohmu tak dapat kuselamatkan.

    Syeh Siti Jenar::  Rohku telah kuselamatkan sendiri

    Iblis: Seperti engkau, aku telah diperlakukan tidak adil. Kau mengambil jalan lurus tapi kau dianggap murtad. Kau selamatkan dirimu sendiri, tapi kau dianggap celaka. Kau merindukan dan mencintai Tuhanmu, kau hormat pada nabimu tapi kau dianggap pemebrontak.

    Syeh Siti Jenar:: Enyahlah Iblis!

    Iblis: Bagaimana aku enyah daripadamu. Kalau aku bagian darimu, tak terpisahkan, tak terbatas sehelai rambut?

    Syeh Siti Jenar:: Kau adalah bagian dari kegelapan. Sekarang di sini semuanya cahaya.


    Dialog-dialog di atas memperlihatkan mistifikasi yang sepenuhnya berpusat kepada bulatan teologis itu. Malaikat dan Iblis bahkan ditolak agar bulatan itu tidak terpecah oleh potensi-potensinya sendiri. Ajaran ini justru dipolitasasi oleh Pangeran Darmacaraka dengan sasaran untuk menghancurkan potensi pemberontakan sisa-sisa Majapahit yang dibawa oleh Kebo Kenongo dari Pengging. Darmacaraka melemparkan provokasi bahwa ajaran-ajaran Jenar telah membawa masuk pengaruh Hindu ke dalam Islam. Kebo Kenongo adalah sisa Majapahit dengan akar Hindu yang masih dibawanya, dan Kebo Kenongo adalah salah seorang murid Jenar.


    Darmacaraka menyampaikan teori konspirasi ini, antara Jenar dan Kebo Kenongo dengan mengabaikan fakta yang dibawa Sunan Giri bahwa pengikut-pengikut Jenar tidak mungkin melakukan pemberontakan. Karena pengikut-pengikutnya anti kekerasan, menjalin hubungan cinta-kasih antar sesama, dan bersikap lemah lembut. Kekuasaan Demak memprovokasi sedemikian rupa para Wali untuk berada dalam konspirasi ini. Jenar kemudian dihukum mati, dan mayatnya diganti oleh bangkai anjing agar pengikut Jenar ikut terprovokasi bahwa ajaran yang dibawa Jenar adalah sesat. Taktik yang tidak berbeda jauh ketika Arok menyerahkan keris Mpu Gandring ke Kebo Ijo, dan keris itu digunakan Arok untuk membunuh Tunggul Ametung saat Kebo Ijo tertidur, sehingga seakan-akan Tunggul Ametung dibunuh oleh Kebo Ijo.


    Laten Memori Politik
    Perbedaan jarak 1 tahun penciptaan naskah Syeh Siti Jenar (1986) dan Ken Arok (1987) yang dilakukan Saini KM, memperlihatkan adanya semacam memori politik yang laten untuk kembali berulang. Memori politik yang bisa kita gunakan untuk membaca kembali berbagai peristiwa politik dari rasionalisasi tentara dan pemberontakan daerah pada masa Sukarno, jatuhnya Sukarno dan munculnya rezim Suharto, reformasi 1998, dan konspirasi antara berita-berita media massa dengan peristiwa politik yang terjadi di masakini.


    Dalam naskah-naskah Saini yang lain, laten memori politik itu juga terjadi pada Dunia Orang Mati, 1986; Penembak Jitu Sewaan Triad, 2002. Mungkin juga pada naskah-naskah Saini yang lain, yang memang belum saya baca seluruhnya. Dunia Orang Mati yang ditulis pada tahun yang sama dengan naskah Jenar, memperlihatkan konspirasi veteran dari Angkatan 45 dalam melakukan korupsi. Darma, merupakan satu-satunya dari mereka yang tetap berusaha menjaga komitmennya terhadap akal sehat dan moral. Tetapi dengan berbagai cara, konspirasi ini berusaha menjatuhkan Darma, di antaranya dengan menjebloskan istri Darma sebagai pelacur kelas atas.


    Darma sendiri akhirnya bekerja sebagai pengurus kompleks pekuburan. Mutasi yang dialami Darma, tidak berbeda jauh dengan Arok maupun Jenar. Arok dengan berada di luar peradaban, Jenar dengan transenden atas peradaban, dan Darma dengan hidup dalam kuburan peradaban. Mutasi ini berlangsung lebih kejam pada tokoh suami-istri yang hidup miskin dalam naskahnya Siapa Bilang Saya Godot, 1977. Pasangan suami-istri ini ingin bunuh diri karena kemiskinannya. Mereka berdua mencuri pisau untuk bunuh diri. Tetapi ternyata pisau itu terbuat dari karet, dan digunakan oleh murid-murid untuk latihan bela diri. Murid-murid yang mengetahui pencuriaan ini, kemudian menghajar suami-istri ini hingga mati. Mereka berdua tidak diterima di alam baka. Hantunya gentayangan.


    Di alam kematian, pasangan suami-istri ini kembali ingin bunuh diri dari alam gentayangan agar bisa diterima di alam baka.
    Penembak Jitu Sewaan Triad (2002), juga tidak berbeda jauh untuk melihat konspirasi lembaga-lembaga hukum dalam budaya korupsi dan berbagai praktek pemerasan atau komersialisasi hukum untuk kepentingan mereka. Naskah ini merupakan salah satu naskah Saini yang berusaha membuat semacam “humor hitam” untuk melakukan kritik. Yaitu dengan mengacaukan peran dua orang yang sama-sama bernama Jujur antara Jujur Bajuri dan Jujur Jurdana. Dan kedua-duanya menjadi objek pemerasan dari komersialisasi hukum.


    Naskah Penembak Jitu Sewaan Triad seperti sebuah garis panjang pemetaan laten memori politik dari Jenar, Arok, Darma hingga dua peran bernama Jujur. Laten memori politik yang kian berkembang biak, membuat pecahan-pecahannya sendiri, membuat semacam lingkaran cincin api dari peradaban hingga ke alam kubur.Dari bagaimana Orde Baru membangun fiksi kekuasaannya melalui peristiwa G. 30 S hingga fiksi reformasi 1998.

    Aktor Bahasa dan Tubuh di Luar Bahasa
    Saini KM dibesarkan dalam lingkungan pengrajin emas di Sumedang. Hidup intens dengan tradisi Sunda yang beragam. Kemudian bergaul cukup dekat dengan musik rock’ roll pada jamannya. Lingkungan yang sebenarnya merupakan bagian dari biografi organik dengan naskah-naskah dramanya. Warna ini muncul dengan massif pada karyanya Mat Jaga (1985) yang berlatar tradisi Dewi Kesuburan (Dewi Sri) dalam kontek masyarakat Hindu-Sunda, dan musik hard-rock pada naskah Siapa Bilang Saya Godot (1977).


    Biografi organik Saini itu lebih banyak muncul dalam konstruksi setting pertunjukan dan musik sebagai latar pertunjukan. Tetapi tidak pada bentuk maupun struktur dialog yang dibangun Saini KM, ia cenderung menggunakan bahasa Indonesia dengan struktur tulisan daripada bahasa Indonesia dengan struktur lisan. Pilihan ini tentu membawa persoalan pada seni akting, karena rata-rata aktor harus melisankan struktur tulisan pada dialog-dialog yang dibuat Saini KM. Ungkapan-ungkapan lokal, juga tidak cukup signifikan mewarnai struktur formal dari dialog-dialog yang diciptakan Saini.


    Apa yang dilakukan Saini merupakan ciri umum dari rata-rata naskah drama yang menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa tidak menjadi aktor. Atau bahasa berada di luar tubuh aktor untuk mengembangkan seni aktingnya. Hal ini merupakan problem fundamental bahasa Indonesia yang terpisah antara struktur tulisan dengan struktur lisan: struktur tulisan untuk melayani gramatika bahasa, dan struktur lisan lebih mewakiliki gramatika tubuh.


    Pesan, kalimat, struktur pikiran, jauh lebih diutamakan daripada “seni dialog”.  Penempatan bahasa bukan sebagai aktor, memang membuat dialog berada dalam peran di luar karakter bahasa dari masing-masing peran. Seakan-akan dialog antara Kertajaya dengan Lohgawe bisa ditukar, antara Lohgawe dengan Pangeran Darmacaraka yang berada dalam naskah berbeda, juga bisa ditukar. Hanya peran yang membedakannya. Saya ingin mengutip salah satu di antaranya seperti ini:

    Lohgawe: Kalian tidak melihat hubungan yang lebih dalam. Tidakan menyelenggarkan pembacaan kedua wiracerita di depan khalayak adalah bukti adanya persengkololan semesta. Siapa tahu di belakang kalian Kertajaya telah mengadakan hubungan yang lebih daripada erat dengan kaumnya yang ada di Jumbudwipa. (Dari naskah Ken Arok)

    Pangeran Darmacaraka: Demi wibawa Sri Sultan, perintah itu perlu dipertimbangkan kemabli. Pertama, warga Pengging beranggapan bahwa dalam masalah hubungan manusia dengan Tuhan, tak ada seorang  pun yang dapat ikut campur dengan yang lain. Sri Sultan  pun tidak. Tidak ada orang yang dapat menghalangi seseorang mencari Tuhan, tapi juga tak ada orang yang dapat membantu orang lain menemukan Tuhan. Seperti lahir dan mati, kita menghadap Tuhan seorang diri. Paksaan apa pun tak dapat mengubah kebenaran ini. Kedua, Sri Sultan hendak memaksakan juga perintah itu, hendaknya diperhitungkan akibat-akibatnya. (Dari naskah Syeh Siti Jenar).

    Tidak ada ciri lisan yang khas dari dua dialog keduanya. Terutama aspek bunyi dari kelisanan. Bahasa Indonesia sebagai bagian penting dari modernisme Indonesia, membuatnya seperti membelah diri antara struktur tulisan dengan struktur lisan. Struktur tulisan terbuka terhadap masuknya kata-kata asing (dianggap sebagai progress dari modernisme, tetapi cenderung tertutup terhadap masuknya kata-kata lokal (dianggap sebagai tradisional yang berhadapan dengan modernisme). Sementara dalam struktur lisan, menjadi sangat terbuka terhadap ungkapan-ungkapan lokal. Berkembang jauh lebih fleksibel dibandingkan dengan strutur tulisan dalam bahasa Indonesia. Karena struktur lisan lebih organik untuk mewakili tubuh yang melisankannya.


    Struktur tulisan yang digunakan pada banyak naskah-naskah drama berbahasa Indonesia, pada gilirannya memang merupakan aplikasi dari pandangan bahwa teater harus menghasilkan kisah. Penonton akan mendapatkan cerita yang telah dikisahkan melalui pertunjukan yang telah disaksikannya. Tetapi pada saat yang sama, penonton tidak mendapatkan “seni dialog” dari akting aktor yang memainkannya. Penonton hanya mendapatkan “seni bercerita” yang dikisahkan melalui peran aktor yang memainkannya.


    Dialog-dialog untuk Syeh Siti Jenar lebih khas, karena Saini cenderung menggunakan puitika untuk menyampaikan pesan-pesan mistis dari pandangan teologis Jenar. Kadang dengan menggunakan rima yang terjaga.

    Syeh Siti Jenar: Bunga yang layu ditangkai, takutkah ia jatuh ke bumi, bunga yang dipetik untuk sanggul pengantin, takutkah ia layu?

    Atau:

    Syeh Siti Jenar: Tak ada yang lebih wajar daripada kematian. Tak ada yang lebih wajar daripada awan yang melalui sungai pulang ke samudera; biji kembali ke pohon melalui tanah. Tak ada yang lebih wajar daripada mahluk kembali kepada khalik, yang fana kepada baka, karena tiada yang fana kalau tiada yang baka, tiada yang baka kalau tiada yang fana, tiada yang fana kalau tiada yang baka astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim, astagfirullahaladzim
    (SEMENTARA KOOR BANGKIT BERTAMBAH NYARING, JIBRIIL MENINGGALKAN PENTAS DAN MENGHILANG)


    Saini yang juga hidup sebagai penyair, membuat puitika dialog-dialog Jenar memang mendapatkan maksimalisasinya yang signifikan. Dan memperlihatkan kualitas sastra yang dikuasai Saini dalam menulis naskah ini. Namun secara keseluruhan, mutasi-mutasi anarkhis yang dibawa Saini pada sebagian besar naskah-naskahnya di atas, memang tidak mendapatkan pencitraannya melalui struktur tulisan dari bahasa Indonesia yang digunakan Saini.


    Hal itu pada gilirannya memperlihatkan pentingnya peran naskah-naskah drama di Indonesia, untuk membawa teater ke dalam politik bahasa yang berbeda dengan yang dijalankan oleh genre-genre sastra lainnya. Karena melalui teaterlah bahasa mendapatkan tubuhnya, mendapatkan pelisanan dan pengisahannya. Melalui teaterlah bahasa hidup sebagai aktor linguistik dalam pertunjukan.***


    Foto: Dok. TPG Images



    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News