• ??? ????
  • ??? ????
  • Momen Lamaran Menegangkan Teuku Wisnu-Shireen Sungkar

    Sat,26 January 2013 | 23:34

       

    DESEMBER 2012 lalu momen tak terlupakan pasangan serasi ini.

    Di bulan itu, Wisnu resmi meminang Shireen untuk menjadi istrinya. Lamaran ini sama sekali tidak direncanakan.

    “Niat bertemu papanya Shireen sebenarnya sudah lama. Cuma tunggu waktu yang tepat. Sampai suatu hari, dua hari sebelum papa saya balik lagi ke Aceh, tiba-tiba saja saya mengutarakan niat mengajak papa ke rumah Shireen. Oke, kata Papa. Itu sama sekali enggak direncanakan. Shireen saja kaget waktu saya kasih tahu mau ke rumahnya,” ungkap Wisnu.

    Kedatangan Wisnu dan keluarga di rumah Shireen di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, disambut dengan tangan terbuka keluarga Shireen.

    “Saya datang bersama orang tua dan bude saya, orang yang paling dituakan di keluarga kami. Di rumah Shireen, kami sempat mengobrol dan makan siang dulu,” bilangnya. Suasana berubah tegang ketika bude Wisnu mengutarakan niat kedatangan kepada Mark Sungkar.

    “Bude saya bilang kepada papa Shireen, maksud dan tujuannya kedatangan mereka untuk bersilaturahim, mempererat hubungan (antarkeluarga), dan juga membicarakan hubungan Wisnu dan Shireen ke jenjang yang lebih serius lagi. Belum selesai bicara, papa Shireen memotong. Dia tanya, ini silaturahim atau yang lain? Kalau silaturahim, ya silaturahim. Kalau mau lamaran, ya ngomong saja mau melamar,” Wisnu bercerita.

    Menurut Shireen, papanya tidak suka bertele-tele. “Dia selalu bilang, orang Indonesia itu terlalu banyak pengantarnya sebelum masuk ke inti pembicaraan, hahaha. Saya, sih enggak menyalahkan Wisnu,” ungkap Shireen yang sukses membintangi sinetron Cinta Fitri, Ranum, dan Dia Ayu.

    Menjadi seriusWisnu pun terenyak dan gugup. Pertemuan yang semula dipikir Wisnu berlangsung santai, berubah tegang. “Bude, kan dari Jawa. Wajar jika dia ramah dan sopan ketika menyampaikan. Cuma papa Shireen penginnya langsung ke intinya. Menegangkan. Apalagi saat papanya menegur Shireen yang ketawa-ketiwi. ‘Shireen, ini serius, lho. Enggak bercanda.’ Anaknya saja enggak boleh tertawa, apalagi saya, pikir saya saat itu,” Wisnu menceritakan dengan nada serius juga.

    Karena jadi sesuatu yang serius, Wisnu ikut serius. Sepanjang pembicaraan, suasana tegang. “Benar-benar serius. Shireen saja sampai merasa aneh melihat saya serius, hehehe. Di satu sisi tegang, karena mau membicarakan sesuatu yang penting. Di sisi lain, karena belum pernah melamar seseorang, tiba-tiba lihat papa Shireen serius, saya jadi serius juga,” kata Wisnu. Wisnu semakin deg-degan saat diberi kesempatan untuk bicara. “Belibet, deh ngomongnya. Sampai papanya Shireen memotong, ‘Kamu, kok panjang lebar. Grogi begitu. Sudahlah ngomong saja, saya minta Shireen jadi istri saya.’ Setelah itu, saya ikuti apa yang dibilang papa Shireen. Saya katakan, kedatangan saya ke sini untuk minta Shireen jadi istri saya,” ungkap Wisnu.

    Selesai?

    Belum. Keyakinan Wisnu untuk menikahi Shireen diuji ketika papa Shireen memberi beberapa nasihat. “Nasihatnya panjang. Menceritakan suatu pernikahan. Papa Shireen mengatakan, pernikahan itu, kan menyatukan dua insan yang memiliki karakter yang berbeda. Jadi, suami istri harus saling memahami dan saling mengisi. Di satu sisi, seorang istri harus menuruti apa kata suami, harus mengikuti apa kata suami karena suami adalah imam keluarga. Mau pergi ke mana pun, harus seizin suami. Kalau tidak izin, itu dosa. Di sisi lain, suami harus sayang sama istrinya. Harus tahu sifat istri bagaimana. Seperti dia dan Shireen, misalnya. Dia tahu Shireen cuek. Cuma dia tetap bisa lembut sama Shireen, begitu kata papa Shireen,” Wisnu mengingat sepotong nasihat sang calon mertua. Mark hafal betul bagaimana cueknya Shireen.

    Di sela obrolan, seolah ingin membuktikan kepada Wisnu, Mark mendadak bertanya kepada Shireen soal isi pesan singkatnya di ponsel paginya.

    “Sayang, kamu ingat enggak tadi pagi Papa SMS kamu?” tanya Mark.

    “Yang mana, Pa?” Shireen bertanya balik dengan nada bingung.

    “Ya, yang tadi pagi,” tegas Mark namun dengan nada lembut.

    “Yang mana, ya?” jawab Shireen lagi.

    “Wah, kamu memang benar-benar (cuek), ya,” Mark pun geleng-geleng kepala. Hahaha.

    Dialog itu menurut Wisnu seolah ingin menunjukkan, secuek apa pun Shireen, “Harus tetap lembut kepadanya. Tidak boleh keras.”

    Lucunya, setelah memberi nasihat, Mark bertanya, “Kapan nikahnya?” Wisnu dan Shireen saling melirik, lalu menjawab, “Insya Allah kalau enggak ada halangan, kami pengin nikah akhir 2013.” Mark menukas, “Lama banget. Langsung saja Februari 2013.” Usulan ini menurut Shireen hanya candaan, biar suasana yang tegang kembali mencair. “Lagi pula kami enggak mau terburu-buru juga,” sergah Shireen.

    Pulang ke rumah, Wisnu sekeluarga lega dan bahagia.

    Lantas, kapan rencananya melamar dengan membawa seserahan? Baik Wisnu maupun Shireen belum menentukan.

    “Di keluarga Arab, kan meminta (seperti yang Wisnu lakukan) itu sudah sah. Artinya, enggak perlu ada bertunangan atau tukar cincin. Itu dari Papa. Cuma enggak tahu dari keluarga Mama. Mungkin nanti lamaran resminya 1-2 bulan sebelum nikah. Enggak usah terlalu jauh jaraknya,” begitu kata Shireen.

    (val/ind/adm)


    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News