• ??? ????
  • ??? ????
  • Michelle Ziudith, Dari Medan Menuju Paris

    Sun,06 January 2013 | 08:23

       

    WAKTU kecil, Michelle Ziudith (17) punya cita-cita yang sedikit berbeda dari teman sebayanya.

    Michelle (baca: Misel-red) ingin sekali menjadi balerina dan pelukis. Namun, jalan hidupnya berkata lain. Ketika dewasa, dia justru menjejakkan kaki di dunia hiburan Tanah Air sebagai model, kemudian satu tahun terakhir serius menekuni dunia seni peran.

    Wajah manis Michelle rajin seliweran di layar kaca lewat lakon Yasmine Diandra di sinetron Love In Paris.

    Tayang mulai Oktober 2012 lalu, Love In Paris berhasil mencatat prestasi mencengangkan, terpilih sebagai Program Paling Ngetop di ajang SCTV Awards 2012. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa kerja keras dan pengorbanan sutradara, kru, dan para pemain tidak sia-sia.

    Kerja ekstra mereka mendapat apresiasi yang tinggi dari masyarakat. Michelle yang ditemui di lokasi syuting Love In Paris di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, juga ikut senang. Cewek cantik blasteran Jawa, Belanda, dan Jepang ini, merasa bahwa perjuangannya menghidupkan karakter tokoh Yasmine yang menderita penyakit leukemia tidak sia-sia.

    "Senang banget rasanya dapat penghargaan. Capeknya terbayar. Syuting sampai pagi ternyata ada hasilnya, bikin aku dan pemain lain jadi lebih semangat. Apalagi rating dan share bagus terus," ungkap Michelle. Love In Paris berkisah tentang cinta segi tiga antara Yasmine, Rafa (Rio Dewanto), dan Reno (Dimas Anggara). Mereka dipertemukan di kota Paris yang menjadi latar belakang alur cerita yang sarat cinta-cintaan.

    Di tengah cinta segi tiga itu, ada seorang gadis bernama Aqila (Anita Siregar) yang menaruh dendam terhadap Yasmine karena merebut Reno. Namun menjelang beberapa episode terakhir -- Love In Paris akan tamat Minggu (30/12) dan rencananya akan syuting kembali awal tahun 2013 untuk season 2 -- Aqila dan Yasmin diceritakan bersahabat baik.

    "Soal karakter Yasmine, dia itu apa adanya, low profile, lucu, konyol, seru, dan dari kecil sakit leukemia, sehingga bergantung terus sama obat-obatan. Satu hal yang bikin dia bertahan hidup adalah cinta," terang Michelle panjang. Kesulitan memerankan Yasmine diakui Michelle sempat ia alami di awal-awal episode. "Setelah banyak tanya sutradaranya, juga penulisnya tentang karakter Yasmine, aku jadi terbiasa. Bahkan namaku kalau di lokasi syuting itu Yasmine, bukan Michelle," Michelle menukas.

    Ia banyak menimba ilmu dari pemain-pemain senior yang ikut terlibat di Love In Paris, seperti Amara, Mathias Muchus, dan Surya Saputra. "Mereka bimbing aku banget. Sangat welcome. Kadang bahkan tanpa aku tanya, mereka kasih tahu bagaimana sebaiknya aku melakukan adegan dengan bagus," kata Michelle.

    Kata Paris di judul Love In Paris bukan tempelan belaka karena mereka memang benar-benar syuting di Paris selama 15 hari. "Seru banget. Sebelum ke Paris, ada proses reading dulu seminggu. Jadi begitu di Paris enggak ada latihan lagi," beri tahunya.

    Tujuh hari dalam seminggu Michelle full syuting. Capek, sudah pasti. Tapi apa boleh buat, karena sudah terikat kontrak, segala konsekuensinya harus Michelle terima.

    "Capek banget, sampai aku enggak punya kehidupan buat diri sendiri. Sehari aku bisa kebagian 20-25 scenes. Itu sebabnya susah banget untuk menjaga mood tetap bagus. Apalagi kalau pengambilan gambarnya tengah malam, ngantuk. Biar mood bagus biasanya bercanda atau main-main dulu," kata pemilik tinggi badan 165 cm dan berat 46 kg ini.

    (ind/adm)


    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News