• ??? ????
  • ??? ????
  • Paulus Lion Morry Oddy: Rahmat di Balik Kematian

    Fri,07 June 2013 | 11:40

       

    HIDUPKATOLIK.com - Meninggalnya sang putra bungsu, sempat membuat Paulus Lion Morry Oddy (61) dan istrinya mendekap duka mendalam. Namun, iman dan penyerahan diri pada kehendak Tuhan menguatkan mereka.

    ”Turut berduka cita atas meninggalnya Yonatan.” Demikian isi pesan singkat melalui sms yang diterima Lion dari seorang teman. Ketika itu, 9 Desember 2010, ia tengah menyetir mobil dari Sekadau ke Pontianak, Kalimantan Barat.

    Yonatan, bernama lengkap Yonatan Pramunarwasta, merupakan putra bungsu pasangan Paulus Lion Morry Oddy dan Elisabeth Oyah. Saat menerima kabar duka bahwa anaknya meninggal, Lion mengaku seperti diterpa guntur di siang bolong. Perasaannya kacau balau. Namun, ia berjuang untuk tetap tenang dan mengendapkan rasa terkejut dan sedih yang berkecamuk di hatinya. Sang istri yang duduk di sisinya belum mengetahui kabar duka tersebut.

    Merasa curiga suaminya tak banyak bicara, Elisabeth pun bertanya, “Sms dari siapa?” Lion menjawab setenang mungkin bahwa sms itu dari seorang temannya. Sang istri masih meneruskan pertanyaannya mengenai isi sms yang diterima Lion. Dan Lion pun menjawab bahwa seorang teman menanyakan keberadaannya di mana. Dalam hati, Lion hanya berdoa semoga isi pesan via sms yang diterimanya tidak benar.

    Berusaha tenang
    Perasaan risau mendera hati Lion. Tak terbersit dalam benak Lion bahwa anaknya akan meninggalkannya terlebih dahulu. Sepengetahuan Lion, putranya sangat sehat dan tidak menderita satu penyakit yang membahayakan. Apalagi, buah hatinya itu kini sedang melaksanakan tugas penataran dari kantornya, BKKBN Kabupaten Sekadau.

    Dalam kegelisahan, Lion berusaha tabah dan menahan air di pelupuk matanya agar tak tumpah. Ia berusaha tegar. Lion berusaha tetap tenang, bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa. Dengan begitu, ia berharap istrinya tidak kalut selama di perjalanan.

    Satu-satunya pegangan yang bisa membuatnya tenang dan pasrah pada Tuhan adalah kutipan Kitab Suci: “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Kata-kata itu diucapkannya berkali-kali dalam hati.

    Ia pun mengungkapkan imannya dengan sebuah pantun, “Sudah ditutup sebuah peti // Peti berisi banyak pakaian // Baik hidup ataupun mati // Kita adalah milik Tuhan”. Demikian pantun yang diciptakan pujangga asal Kalimantan Barat ini.

    Ketika Lion sampai di Rumah Sakit Promedika Pontianak, semuanya menjadi jelas. Suasana berbalik seratus delapan puluh derajat. Berita duka yang Lion terima melalui sms benar adanya. Putra tercintanya telah meninggal dunia pada pukul 14.10 WIB. Mendengar hal itu, istrinya menangis sejadi-jadinya. Sang istri tak bisa menerima kenyataan itu. Air mata Lion pun tak bisa dibendung lagi.

    Namun, Lion tak hanyut dalam duka. Lion menunjukkan ketegaran jiwanya. Ia menghapus air matanya dan segera mendekati istrinya untuk memberikan penghiburan. “Kita harus terima kejadian ini dengan kacamata iman,” hibur Lion kepada istrinya. “Mari kita berdoa semoga segala noda, salah, dan khilafnya dihapuskan. Dan semoga berkat iman, Tuhan memberi dia kehidupan yang kekal,” imbuh Lion.

    “Tanam saja di sudut taman // Bibit bunga yang disemai mami // Kalau kita tidak beriman // Sia-sialah kehidupan di bumi,” tutur Lion saat mengisahkan kembali pengalaman kehilangan putranya.

    Bagi Ketua Dewan Pengurus Paroki (DPP) St Petrus dan Paulus Sekadau, Keuskupan Sanggau ini, seseorang yang mengaku Katolik harus memaknai kematian dari kacamata iman. “Semua kehidupan di bumi tertuju pada Tuhan dan seharusnya mengarah pada-Nya. Kerelaan atas semuanya adalah: ‘Yang terjadi terjadilah’. Manusia hanya bisa berdoa dan berharap semoga kehendak kita selaras dengan maksud Tuhan, yakni supaya hidup bahagia menuju surga yang abadi,” papar Lion.

    Memaknai kematian
    Perpisahan dengan orang yang dicintai, dimaknai Lion sebagai saat menyatakan penyerahan total hidupnya bagi kehendak Allah. Lion yakin, meski telah berpisah dengan putra yang dicintainya, pasti akan adanya penyatuan kembali di masa mendatang.

    “Oleh kematian, kita tidak sama sekali dipisahkan satu dari yang lain,” ungkapnya. Keyakinan Lion ini didasari oleh makna perpisahan dengan orang-orang yang meninggal dalam Tradisi Bizantin. Simeon dari Tesalonika mengatakan bahwa kita semua sebenarnya berjalan di jalan yang sama dan kita akan bertemu kembali di tempat yang sama.

    Dalam terang keyakinan Simeon dari Tesalonika, Lion percaya bahwa ia tidak akan pernah berpisah dengan putra bungsunya, Yonatan. “Kita tak akan pernah dipisahkan satu dari yang lain karena kita hidup untuk Kristus dan sekarang telah bersatu dengan Kristus. Kita pergi kepada-Nya,” ungkap Lion.

    Lion pun menggenggam keyakinan bahwa perjalanan manusia pada dasarnya adalah perjalanan untuk bersatu dengan yang lain di dalam Kristus. Ia pun kini memaknai kepergian putra tercintanya dalam terang iman di dalam Kristus.

    Kepergian Yonatan diartikan sebagai amanat untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhan. Ia percaya buah hatinya itu kini ada di surga menjadi wakil atau duta keluarga yang senantiasa mendoakan orang tua dan saudaranya.

    “Ibaratnya, kami sudah memiliki anggota keluarga yang dekat sekali dengan seorang presiden (Kristus). Dengan demikian, kami bergembira karena hubungan keluarga kami dengan presiden menjadi lebih akrab,” jelasnya.

    Lion dan istrinya sering meluangkan waktu untuk mengunjungi makam putranya. Bahkan, setiap pukul lima pagi dan pukul empat sore, mereka menyalakan lilin di depan pusara Yonatan. Kemudian mereka mendaraskan doa Rosario.

    Kini, peziarahan ke makam pun memiliki makna baru bagi mantan anggota DPRD Sekadau 2004-2009 ini. Menurutnya, makam adalah suatu tempat yang telah diberkati oleh pastor, yang berperan sebagai wakil Kristus di bumi. Dengan demikian, tempat itu telah disucikan sehingga layak untuk dijadikan tempat berdoa dan mendekatkan diri pada anggota keluarga yang telah berpulang pada Bapa. Kedekatan dengan saudara yang telah meninggal berarti mendekatkan diri pula pada Sang Pencipta.

    Kini, Lion semakin sadar bahwa hidupnya adalah mempersiapkan diri untuk bersatu dengan Kristus. Ia sadar, segala perbuatan dan pikiran, hendaknya selalu tertuju pada Kristus. Dengan begitu, ia selalu siap memberikan hidup pada Tuhan dengan terus melakukan perbuatan-perbuatan yang baik bagi sesama sesuai kehendak-Nya.

    Dalam iman akan persatuan dengan Kristus, Lion yakin akan mampu menyerahkan hidupnya pada Tuhan sehingga kematian bukan menjadi hal yang menakutkan. Baginya, lebih baik menjauhkan diri dari dosa daripada menghindarkan diri dari kematian.

    “Anak kuda di sudut taman // Sedang mengulam daun yang muda // Jika kita tidak beriman // Sia-sialah kehidupan di dunia // Seekor ikan bersisik putih // Suka timbul di musim semi // Dalam iman harapan dan kasih // Kita jalani hidup di bumi,” tandas Lion mengenai imannya, yang diekspresikan lewat pantun.

    Johannes Sutanto de Britto

    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News