HIDUPKATOLIK.com - Pekan Biasa XI; 1Raj 21:1-16; Mzm 5; Mat 5:38-42
Di dekat kampus kami dulu ada pasar. Lalu pasar itu digusur. Demo warga dan mahasiswa pun tak terelakkan. Seorang mahasiswa sempat ditahan, dan entah bagaimana nasibnya sekarang. Pihak yang mengambil alih lahan itu meyakinkan massa bahwa di situ akan dibangun sebuah taman untuk publik. Maka, memang dibuatlah sebuah taman di sepetak tanah. Sungguh hanya basa-basi. Di tanah luas itu sekarang berdiri apartemen.
Kisah malang yang menimpa Nabot masih terus berulang. Yang menang selalu pihak yang punya kuasa. Bila perlu, aparat keamanan pun bisa dibayar untuk membela dan melindungi pihak perampas. Raja Ahab menginginkan tanah. Istrinya merekayasa fitnahan keji. Nabot pun mati dibunuh. Bagi Ahab, itu hanyalah sepetak tanah. Namun, bagi Nabot, itu adalah seluruh identitasnya, warisan leluhurnya. Naluri untuk mengambil telah membutakan mata Ahab dan Izebel istrinya. Hidup manusia tidak ada nilainya.
Pemazmur menyuarakan suara korban, suara Nabot-Nabot zaman ini: ”Indahkanlah keluh kesahku, ya Tuhan.” Meskipun tampaknya penguasa itu menang, pada akhirnya Tuhan akan membalas. Apa yang diajarkan oleh Yesus sungguh mengejutkan. Bila Ahab dan Izebel dibutakan oleh hasrat untuk merampas, Yesus mengajarkan sebuah hasrat untuk memberi. Dengan itu, kekuatan kejahatan akan bisa dikalahkan oleh kekuatan kebaikan. Naluri untuk memberi adalah naluri untuk membela kehidupan sesama.
Deshi Ramadhani SJ
Berikanlah Segera!: Renungan Senin, 18 Juni 2012

Be Social with IYAA