HIDUPKATOLIK.com - Apakah bumi yang kita huni ini akan bertahan? Ke manakah bumi ini menuju? Apa peran dan tanggung jawab manusia di dalamnya? Semua ini adalah pertanyaan eksistensial baru yang muncul pertama kali pada era 1960 dan 1970-an, akibat krisis ekologisteknologis di Barat.
Di kemudian hari, jawaban atas semua pertanyaan ini cukup diberikan beberapa pihak lewat kata kunci seperti "Tschernobyl", "Efek Rumah Kaca", "Lubang Ozon" atau "Pemanasan Global". Di pihak lain, dunia sinematografis membuat dua film dramatis terkenal, Incovenient Truth (Kebenaran yang Tak Nyaman) ala Al Gore dan film "2012" ala Hollywood yang seperti biasa bersifat lebay.
Namun, di balik semua usaha menjawab pertanyaan ini, pada prinsipnya berlaku apa yang dikatakan Hans Jonas (1903-1993), filsuf Jerman, bila kita mau menentukan sikap dasar berhadapan dengan masalah kehancuran ekologi: in dubio pro malo! Maksudnya, dalam keraguan, prioritaskanlah yang buruk! Bila prognose masa depan menyangkut lingkungan hidup tidak bisa dipastikan, entah suram atau cerah, maka prognose akibat yang lebih buruk harus lebih diprioritaskan daripada yang baik. Inilah dia maksim dari etika baru yang disebut Jonas sebagai "Etika Tanggung Jawab" (Ethik der Verantwortung) yang setali tiga uang dengan "Etika Pemeliharaan" (Ethik der Bewährung).
Sekarang, adakah inspirasi yang bisa digali dari khazanah iman kristiani? Jawaban Jürgen Moltmann, seorang teolog Jerman, lugas dan inspiratif, "Ya, iman akan Tritunggal!" Di dalam bukunya Tuhan dalam Penciptaan: Ajaran Ekologis tentang Penciptaan (Gott in der Schöpfung: Ökologische Schöpfungslehre, 1985) Moltmann mengusulkan agar kita mengoreksi paham antroposentrisme yang melihat manusia sebagai pusat dan puncak karya penciptaan, dan karenanya pantas membawahi (baca: menaklukkan) alam, paham yang pada masa lalu sering dituduh sebagai legitimasi suci bagi nafsu eksploitatif manusia atas alam dan kerusakan ekologis sebagai akibatnya.
Namun, menurut Moltmann, puncak penciptaan bukanlah manusia, melainkan Allah sendiri yang beristirahat setelah menyelesaikan semuanya. Dengan kata lain, puncak penciptaan bukanlah hari keenam (penciptaan manusia), melainkan hari ketujuh (!), yakni kehadiran Allah, ya Allah sendiri dan semata-mata, tanpa ciptaan lain, dalam istirahat-Nya. Untuk menegaskan itu, Moltmann menunjuk pada tindakan Allah yang secara khusus "memberkati dan menguduskan hari ketujuh itu" (Kej 2,3), padahal menyangkut ciptaan lain, juga manusia, hanya dikatakan secara amat umum bahwa Dia "memberkati mereka/ semuanya itu" (Kej 1: 22, 28).
Dengan demikian sudah jelas, bahwa bukan manusia si makhluk relatif itulah puncak dan tujuan segalanya, melainkan Allah yang absolut dan transenden. Di sini Allah merupakan apa yang agaknya oleh penganut Kejawen dipahami sebagai sangkan paraning dumadi sing tan kena kinaya ngapa (asal dan tujuan segala sesuatu yang karena transendensi-Nya tak terdeskripsikan).
Nah, inti pewartaan iman Yahudi akan Allah ini ditarik lebih lanjut dan diradikalisasikan oleh Moltmann kepada iman kristiani dalam sebuah perspektif akhir zaman (eskatologi) yang sudah mulai di dalam dan melalui Yesus Kristus. Dengan kebangkitan Kristus, Allah memulai awal yang baru dengan ciptaan-Nya. "Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2 Kor 5:17).
Ada pun inti hidup baru adalah hidup oleh Roh Kudus yang membawa manusia dari "hawa nafsu, perseteruan, kepentingan diri sendiri" kepada "kebaikan, penguasaan diri" (Gal 5:19-23) untuk kepentingan semua. Di dalam dunia yang sudah diperbarui oleh Allah melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus ini, tugas dari Sang Pencipta yang diberikan kepada manusia agar ia menjadi wali Allah "mengusahakan dan memelihara" dunia (Kej 2,15), mendapatkan kebaruan dan kedalamannya.
Apa yang ditawarkan Moltmann ini mempunyai dua inspirasi serius bagi posisi kita umat kristiani pada masa krisis ekologis ini. Pertama, hakikat manusia sebagai citra Allah tidak terletak pada kemampuannya menaklukkan dan menguasai bumi, melainkan pada tekadnya mengambil alih tanggung jawab atas kehidupan yang diciptakan Allah dengan amat baik, bahkan sungguh amat baik itu. Kehidupan itu hanya punya satu tujuan, yaitu bahwa ia mau tetap hidup. Maka, adalah tugas dan tanggung jawab kita agar kehidupan itu berlangsung terus. Cara sekecil apa pun untuk membuat hidup ini terus hidup, adalah luhur dan sakral! Kita teringat akan kata-kata Sam Ratulangie (1890-1949), Pahlawan Nasional asal Minahasa yang mempopulerkan semboyan leluhur sukunya: si tou timou tumou tou (manusia hidup untuk menghidupkan yang lain).
Kedua, Kisah Penciptaan tidak hanya menyajikan cermin diri untuk menjawab pertanyaan "Siapakah aku?", melainkan juga merupakan kenangan akan masa depan. Dia menyadarkan kita akan janji "langit dan bumi yang baru" (2 Petrus 3, 13) yang dikerjakan oleh Allah sebagai Penyempurnaannya. Allah adalah A dan Ω, Dia yang mampu menciptakan segala yang ada dari ketiadaan (creatio ex nihilo), pasti juga mampu membawa semuanya pada kesempurnaan sesuai rencana-Nya.
Maka, bukan ketakutan ala Al Gore atau film "2012" yang akan diberikan kepada manusia di masa depan, melainkan Allah sendiri yang akan menjadikan segalanya baru. Ini bukan futurologi saleh yang bicara tentang masa depan, melainkan kebalikannya: ini pembicaraan tentang masa kini yang harus diukur oleh masa depan, yakni Allah sendiri yang ingin agar semua orang mendapat keselamatan, ambil bagian dalam kemuliaan-Nya. "Sebab seluruh makhluk menantikan dengan sangat rindu dimerdekakan dari perbudakan kebijaksanaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah" (Rom 8, 19ff ).
Dengan demikian, alam ciptaan adalah rahmat dan amanat sekaligus. "Rahmat", sebab ia merupakan pemberian Tuhan kepada kita berdasarkan kasih-Nya. "Amanat", sebab ia menyuruh kita menggunakannya sesuai rencana-Nya, yakni keselamatan semua orang di masa depan. Dari perspektif ini, manusia dipanggil menjadi wali Tuhan yang menjaga dan memelihara alam ciptaan ini, bukan merusaknya. Trinity dan Greenity, teologi dan ekologi, bertemu dan berjabat tangan.
Simon Petrus L. Tjahjadi
Ketua STF Driyarkara, Jakarta

Be Social with IYAA