HIDUPKATOLIK.com - Tiap Senin dan Kamis malam, suasana Perkampungan Sosial Pingit (PSP) Yogyakarta, yang berada di dekat bantaran Sungai Winongo tampak semarak. Puluhan anak usia TK hingga SMP berkumpul untuk belajar bersama.
Anak-anak ini didampingi oleh para relawan, yakni para frater yang tinggal di Kolese Santo Ignatius (Kolsani) Yogyakarta. "Jika ada event khusus, anak-anak yang datang cukup banyak. Tetapi, pada hari biasa seperti sekarang yang datang untuk belajar kurang dari 30 anak," tutur koordinator pendamping anak-anak, Fr Robertus Mahatma Chryshna SJ.
Anak-anak yang belajar di PSP berasal dari keluarga miskin yang masuk wilayah RT I-III dan RW I Pingit. Di rumah model kotangan, yang dibangun campuran antara batu bata dan dinding gedhek, para relawan mendampingi anak-anak belajar menulis, berhitung, dan menggambar.
Anak-anak dibagi dalam empat kategori: kelas TK (usia 3- 6 tahun), kelas SD kecil (usia 7-9 tahun), SD besar (10-12 tahun), dan kelompok anak yang memiliki pekerjaan rumah (PR) dari sekolahnya.
"Orangtua sebetulnya bisa mengajari anaknya sendiri. Tetapi, karena sibuk dan tidak memiliki konsep pendampingan yang ideal, maka hal itu tidak dilakukan. Di sini ada kegiatan yang membuat anak-anak senang, sehingga mereka betah belajar bersama-sama," jelas Fr Atma, sapaan calon imam asal Ambarawa ini.
Memberi pelayanan
PSP yang terletak di Kampung Pingit Kidul, Kota Baru, Yogyakarta ini bermula dari sebuah komunitas yang bergerak di bidang community development. Gerakan ini dirintis pada 1965 oleh Pastor Benhard Kieser SJ, yang saat itu masih sebagai frater Yesuit. Tujuan awalnya untuk memberi pelayanan sederhana bagi keluarga-keluarga tunawisma yang mengalami krisis ekonomi cukup berat pasca 1965.
Selanjutnya, pada 1968 aktivitas sosial para frater Kolsani itu mendapat payung hukum dari Yayasan Soegijapranata Semarang (YSS). Sejak itu, aktivitas sosial tersebut lebih dikenal sebagai YSS. Tahun 2005, terjadi merger YSS dengan Seksi Pengabdian Masyarakat Yayasan Realino yang kemudian membuat nama YSS berubah kembali menjadi PSP.
Para relawan yang terlibat dalam PSP dibagi menjadi dua divisi: divisi pendampingan anak-anak dan divisi pengembangan masyarakat. Divisi pengembangan masyarakat memberikan tempat hunian sementara di PSP bagi dua hingga tiga keluarga miskin. Mereka ditampung dan didampingi selama kurang lebih dua tahun di PSP. Harapannya, setelah keluar dari PSP, mereka dapat hidup "normal" di masyarakat dan tidak lagi tinggal di jalan.
Sementara divisi pendampingan anak-anak mendampingi sekitar 40 anak, di mana dua di antaranya sudah tidak mau bersekolah. Kegiatan pendampingan belajar dilakukan pada Senin dan Kamis, pukul 19.00-21.00 WIB. Perpustakaan juga disediakan bagi anak-anak dengan berbagai koleksi buku bacaan.
Selain para frater, para mahasiswa juga terlibat sebagai relawan dalam pendampingan anak-anak keluarga miskin. Mereka adalah mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan kelompok minat tertentu yang memberikan pelajaran mengenai keterampilan.
Fr Atma yang bertanggung jawab mendampingi anak-anak binaan PSP mengungkapkan, bahwa beberapa waktu lalu pihaknya mendapat tawaran untuk membuka kelas bahasa Inggris di PSP. Tawaran tersebut berasal dari mahasiswa asal Australia yang belajar di Yogyakarta.
Tulang punggung
Dalam keseharian, tulang punggung PSP adalah para relawan. "Kami membuat divisi pendampingan. Jika tidak ada para mahasiswa yang menjadi relawan, PSP tidak akan jalan," jelas Fr Atma.
Mahasiswi Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Guru Sekolah Dasar USD, Sr Tarsisia Bria KYM, sudah tiga bulan mendampingi anak-anak PSP. Ia mengaku sulit mengatur anak-anak. "Awalnya, mereka seperti anak liar, tetapi lama-kelamaan mereka bisa menyesuaikan diri dengan kami," ungkapnya.
Keterlibatan Sr Tarsisia, Fr Gorius Geor CMM, dan tiga mahasiswa USD dalam pelayanan di PSP, untuk melaksanakan program Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) di bidang pengembangan kreativitas mahasiswa. "Kami berlima sebagai calon guru SD mencoba menerapkan metode Montessori pada anak-anak yang terpinggirkan," tutur Fr Geor.
Kewalahan mendampingi anak-anak di PSP, tidak hanya dirasakan Sr Tarsisia. Relawan pada tahun sebelumnya juga mengungkapkan hal senada. "Ketika pertama saya terjun ke sini, saya diabaikan anak-anak. Rupanya mereka punya rasa antipati yang kuat sebelum mengenal seseorang. Tapi setelah kenal, mereka tidak malu-malu lagi," kata Yhonas Oktavian yang membantu sejak 2009.
Sementara relawan lain, Anne Shakka, menjelaskan, anak-anak yang mendapatkan bimbingan belajar di PSP berasal dari beraneka ragam latar belakang keluarga. Ada yang pengemis, pengamen, dll. "Awalnya, ketika diberitahu anak-anak di Pingit tidak mau mendengarkan. Mereka hanya mencaci-maki saja. Jika diminta untuk belajar, mereka melakukannya setengah hati. Tetapi, akhir-akhir ini mereka sudah mau belajar," tuturnya.
Relawan PSP lainnya adalah tokoh Dayak di Yogyakarta, Theresia Nila Ambun Triwati yang dikenal Nila Riwut. Ia menuturkan, sebelum dirinya menulis buku tentang budaya suku Dayak, ia terjun menjadi relawan PSP. Banyak pelajaran yang bisa dipetiknya di sana. "Di PSP, saya mendapat banyak pengalaman yang luar biasa, antara lain menjauhkan dari rasa sombong," katanya.
Sedangkan Robet dari Modern School of Design (MSD) Yogyakarta mendapat tugas mendampingi anak-anak yang menyukai komik. Ia menemukan seorang anak yang berbakat menggambar komik Jepang. Selama 12 pertemuan, ia mengajarkan bagaimana menggambar karakter hingga menjadi sebuah komik. Salah seorang pelajar SMP di sini, Joan, menggambar dengan bagus. "Saya pernah mempublikasikan karyanya di situs komik nasional dan mendapat respons yang baik," ujarnya.
H. Bambang S.
Perkampungan Sosial Pingit: Belajar Bersama Anak-anak
Tag
jendela, Perkampungan Sosial Pingit, PSP, belajar bersama, anak-anak, bantaran Sungai Winongo, Kolese Santo Ignatius, Kolsani, Yogyakarta

Be Social with IYAA