HIDUPKATOLIK.com - "Saya mendapat banyak inspirasi dalam menjalin hubungan dialog antaragama. Ini menjadi sumber pembinaan bagi pribadi saya," tutur Pastor Herman Roborgh SJ.
Pernyataan ini ia lontarkan ketika HIDUP menemuinya di Kolese Kanisius, Menteng, Jakarta Pusat. Setiap tahun, Pastor Herman memang berkunjung ke Indonesia. Selama di Indonesia, ia memberikan kuliah umum kepada para frater dari berbagai negara se-Asia mengenai pentingnya dialog antaragama. Kuliah tersebut berlangsung di Kolese Ignatius (Kolsani) Yogyakarta.
Belajar Islam
Sewaktu berada di Indonesia, Pastor Herman selalu tinggal dan berada di tengah umat Muslim. Hampir 20 tahun ia akrab bergaul dan dekat dengan mereka. Keramahan dan kesantunan sikapnya membuat dia mudah diterima di mana saja. "Bagi saya, mereka adalah teman saya. Saya ingin mengenal mereka lebih dekat, mengetahui jalan pikiran mereka, dan ingin mengetahui iman yang mereka hayati."
Perasaan ini semakin mendalam dari waktu ke waktu. Dari situ muncul hasrat untuk mempelajari Islam secara serius. Baginya, bidang ini sudah demikian dekat dengannya dan sudah banyak diketahui. Sehingga, ketika ada kesempatan untuk studi S2 ke Birmingham University, Inggris, ia tidak menyia-nyiakannya. Ia menempuhnya hanya dalam kurun waktu setahun.
"Tahun 1991 saya langsung ke Lahore, Pakistan. Saya belajar bahasa Urdu satu tahun," ungkapnya. Pada 1993, ia melanjutkan ke Aligarh Muslim University. Tiga tahun ia belajar di bagian utara India. Kemudian, ia memperoleh gelar doktor, dengan disertasi mengenai metode/pendekatan tafsir yang dibuat oleh Maulana Amin Ahsan Islahi, seorang tokoh Islam yang ia kagumi.
Selain kuliah, Pastor Herman juga aktif di bidang pastoral. Karena umat Kristen di Lahore sangat miskin, mereka butuh ditemani, didengarkan, dan didampingi. Dalam pergaulan inilah ia semakin lancar berbahasa Urdu. "Saya belajar bahasa dengan cara bergaul," akunya. Dari sini ia tertarik dengan tafsir yang ditulis oleh Maulana Islahi. Ia menuliskan tafsirnya dalam sembilan buku berbahasa Urdu.
Ketika tugas di Lahore, Pakistan, ia mendirikan perpustakaan yang berisi buku-buku dari berbagai agama. Aktivitas ini cukup menyita waktunya, karena ia harus menyusun buku menurut tema, membeli buku-buku baru, dan membuat suasana perpustakaan menjadi menarik. Ternyata, orang di sana banyak yang tidak dapat membaca, sehingga mereka tidak terlalu bisa memanfaatkan perpustakaan tersebut.
Meski demikian, perpustakaan itu masih ada sampai sekarang. Setiap tahun ia masih datang ke sana. Ia tetap membeli dan membawa buku baru serta mengadakan seminar ilmiah bersama 16 temannya, yang terdiri dari delapan orang Kristen dan delapan orang Muslim. "Kami membahas satu topik yang sudah kami tentukan sebelumnya. Tiap peserta masing-masing membawa makalah. Kami membahasnya beberapa hari dengan harapan mereka akan semakin sadar akan topik itu, sehingga makin bisa mendengarkan pendapat yang berbeda mengenai topik itu," katanya menjelaskan.
Topik-topik yang diangkat dalam seminar ini, antara lain spiritualitas Islam, spiritualitas Kristen, dan cara-cara baru menafsirkan Al Qur’an dan Kitab Suci. Kegiatan ini masih berlangsung setiap tahun hingga sekarang.
Pastor Herman Roborgh adalah orang Belanda. Di usia lima tahun ia migrasi bersama orangtuanya ke New Zealand. Ketika lulus SMA, ia berniat masuk Serikat Yesus. Untuk itu ia hijrah ke Australia. Ia pun menjalankan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (waktu itu IKIP). Setelah lulus, ia mengajar bahasa Inggris selama setahun di Sanata Dharma.
Pada 13 Januari 1977, Herman ditahbiskan menjadi imam, di Nelson, New Zealand. Ia memilih tempat itu, karena di sana orangtua dan sembilan saudaranya tinggal. Ia ingin mereka menyaksikan tahbisannya.
Setelah itu, Pastor Herman kembali ke Indonesia. Ia bertugas di Paroki Katedral Jakarta selama satu tahun. Selanjutnya, ia ditugaskan di Paroki Mangga Besar selama enam tahun. Ketika di Mangga Besar, ia sangat akrab dengan muda-mudi paroki. Berbagai kegiatan mereka adakan, seperti retret, rekoleksi, kemping, dan festival musik untuk muda-mudi se-Jakarta (Citra 81). Di samping itu, ia bersama Pastor L. Sugiri SJ yang kebetulan tinggal satu paroki, juga aktif dalam pembaharuan Karismatik, khususnya bagi kaum muda.
Pada 1984, ia sempat menjadi pastor mahasiswa di Yogyakarta selama satu tahun bersama Romo Dipo (Prof Antonius Sudiarja SJ). Selang setahun, ia bersama Ignatius Ismartono SJ menjadi Pastor Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta (PMKAJ).
Misi
Sekembalinya dari Pakistan pada 2007, Pastor Herman diutus ke Sydney, Australia. Selain menjalankan tugas parokial, ia melalukan riset untuk persiapan penyusunan buku. Ia ingin menulis buku tentang metode atau pendekatan yang ditumbuhkan oleh Maulana Islahi. Rencananya, buku ini akan ditulis dalam edisi bahasa Inggris supaya bisa dimengerti oleh dunia.
Selain itu, Pastor Herman terus menggalakkan dialog antaragama di Sydney. Kegiatan ini dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya, kursus dialog Kristen-Muslim dan Islam dalam Dunia Modern. Kepada umat Kristen, ia mencoba menjelaskan tentang apa yang dihayati dan diimani oleh umat Islam. Ia juga mengajar di Universitas Melbourne, Australia.
Kini, ia aktif menyosialisasikan sekaligus mengajar tentang Islam di kalangan umat Kristen. "Ya, ini adalah tugas utama saya saat ini. Akibat publikasi yang tidak seimbang mengenai berbagai paham atau aliran dalam Islam, bisa saja menimbulkan kesalahpahaman," ungkapnya.
Menurut Pastor Herman, untuk mengenal agama lain, umat Katolik harus berusaha memahami apa yang diyakini oleh orang yang beragama lain itu. Tidak cukup dengan membaca buku saja. Apalagi membatasi diri pada asumsi media yang tidak selalu bisa dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, umat Katolik harus bergaul langsung dengan pribadi manusia yang menganut agama lain untuk mendapat penjelasan dari mereka sendiri mengenai agama yang mereka yakini.
Herman Roborgh SJ
Lahir: Belanda, 24 Juli 1946
Tahbisan imam: 13 Januari 1977 di Nelson, New Zealand
Pendidikan:
• B.A. Monash University, Melbourne, 1973
• Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia, 1976
• M.A. Birmingham University, United Kingdom, 1991
• PhD (Islamic Studies), Aligarh Muslim University, India, 2006
Tugas:
• Pastor di Paroki Katedral, Jakarta, 1977–1978
• Pastor di Paroki Mangga Besar, Jakarta, 1978–1984
• Pastor Mahasiswa di Yogyakarta, 1984–1985
• Pastor Mahasiswa di Keuskupan Agung Jakarta, 1985–1991
• Pastor di Pakistan, 1994–2003
• Pastor dan dosen di Sydney, Australia, 2007–sekarang
Angela Rianti
Belajar Memahami Agama Lain

Be Social with IYAA