• ??? ????
  • ??? ????
  • Tujuh Penerima Maarif Award

    Thu,14 June 2012 | 11:02

       
    Tag

    sajian utama, Charles Patrick Edward Burrows OMI, Carolus, Oblate Maria Immaculata, nominator, Maarif Award 2012, Paroki St Stephanus Cilacap

    HIDUPKATOLIK.com - 2007: Arianto Sangadji dan Pendeta Jacklevyn Frits Manuputy

    Arianto aktif membongkar modus penyimpangan, penyelewengan, korupsi, dan pelanggaran HAM. Ia membela hak-hak masyarakat korban dampak pembangunan PLTA di Poso. Pada saat konflik horizontal bermuatan SARA meledak di Poso (1998), ia tampil sebagai mediator sekaligus inovator bagi persatuan kaum muda Muslim-Kristen. Pasca Konflik, ia membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang bertugas menyelidiki dan menginvestigasi konflik Poso agar tidak terjadi pengaburan sejarah.

    Sedangkan Jacklevyn Frits, akrab disapa Jacky, adalah orang yang gigih memperjuangkan hak-hak masyarakat Haruku yang terancam oleh perusahaan tambang asing, khususnya ketika kasus eksplorasi pertambangan di Pulau Haruku mencuat pada 1999. Selain itu, ketika konflik terjadi di Maluku, ia memfasilitasi pertemuan warga Kristen dan Muslim dalam rangka esklamsi konflik. Jacky berhasil meyakinkan masyarakat Maluku bahwa mereka memiliki persamaan kultural sebagai masyarakat Maluku. Ia mempelopori sebuah jaringan rekonsiliasi dengan nama Jaringan Baku Bae.

    2008: Cicilia Yuliati Hendayani, Tuan Guru Haji (TGH) Hasanain Djuaini, dan Drs Tafsir, M.Ag

    Bersama Masyarakat di Dusun Banyu Urip, Wonotirto, Blitar, Jawa Timur yang mengalami penindasan ekonomi, politik, pendidikan, dan agama, Cicilia Yulianti, akrab disapa Yanti, mendirikan institusi pendidikan TK yang menjadi ruang belajar bersama anak-anak lintas agama. Ia juga membantu masyarakat untuk pembebasan lahan rakyat yang dikuasai perkebunan. Selanjutnya, ia bersama LSM yang dibentuknya, Sitas Desa, memperluas wilayah kerja dengan merangkul 11 desa lain. Yanti juga mendirikan Solidaritas Umat Beragama (SUB) untuk meredam potensi konflik bermotif agama.

    Sedangkan Tuan Guru Haji Hasanain Juaini adalah Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia resah dengan masalah buta huruf, angka putus sekolah yang tinggi, dan rendahnya partisipasi perempuan. Ia membuat pendekatan integrated conservation, yakni memaksimalkan pendidikan, konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan mediasi konflik.

    Penerima Maarif Award lain pada tahun ini adalah Tafsir, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah. Ia berani melawan mainstream di tubuh organisasi yang didirikan Ahmad Dahlan pada 1912 ini, baik dari segi gagasan maupun aksi. Ia konsisten memperjuangkan ide-ide progresif meski secara organisasional masih sulit diterima. Tafsir tidak ragu berinteraksi dengan kelompok marginal seperti waria, korban narkoba, dan penderita schizophrenia. Dalam pandangannya, Islam harus benar-benar menjadi kado terindah untuk alam dan manusia.

    2010: Romo Vincentius Kirjito Pr dan S. Ali Al Habsy

    Romo Kirjito adalah penggagas Gerakan Masyarakat Cinta Air (GMCA). Melalui gerakan ini, Romo Kirjito mengobarkan semangat masyarakat untuk melakukan perlawanan secara damai dan tanpa kekerasan terhadap kegiatan yang merusak lingkungan. Bersama masyarakat Merapi, imam Keuskupan Agung Semarang ini menginisiasi kegiatan Kirab Budaya dan atraksi seni sebagai ungkapan protes terhadap para perusak lingkungan.

    Sedangkan Ali Al Habsy, biasa disapa Habib Ali, berhasil mengembangkan perekonomian masyarakat miskin di Martapura dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Melalui lembaga yang ia dirikan, Baitul Mal wa Tamwil, secara konsisten ia membela dan memberdayakan kelompok sosial yang rentan, khususnya di Pasar Sekumpul, Martapura.

    Stefanus P. Elu


    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News