• ??? ????
  • ??? ????
  • 'Saya adalah Pengemis'

    Wed,13 June 2012 | 16:00

       
    Tag

    sajian utama, Charles Patrick Edward Burrows OMI, Carolus, Oblate Maria Immaculata, nominator, Maarif Award 2012, Paroki St Stephanus Cilacap

    "Saya baru 20 persen Katolik. So, mana mungkin saya mengajak masuk Katolik, jika saya sendiri belum benar-benar menjadi Katolik," demikian Romo Carolus menanggapi komentar tentang kristenisasi.

    Imam yang berkarya di Paroki St Stephanus Cilacap, Keuskupan Purwokerto ini, sekarang sudah berusia 69 tahun. Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ pernah berkelakar dan "meramalkan" usia Pastor hanya akan mencapai 72 tahun. Tentu, yang dimaksudkan adalah bagaimana karya-karya yang telah kerjakannya bisa dilanjutkan. "Kami sudah siapkan. Dari kongregasi ada enam imam OMI. Ada satu imam yang sekarang aktif menjadi bendahara dan mempelajari seluk-beluk proyek," kata Romo Carolus kepada R. Sutriyono dari HIDUP.

    Ditemui HIDUP sebelum acara penganugerahan Maarif Award 2012 di Studio Metro TV Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu, 26/5, Romo Carolus mengatakan bahwa sebelumnya ia tidak tahu kalau namanya menjadi nominator penerima Maarif Award 2012. Ia baru tahu setelah terpilih. Berikut petikannya:

    Bagaimana tanggapan Romo terhadap penghargaan ini?

    Satu segi saya sadar bahwa Yesus belum pernah mendapat award. Sehingga, mungkin di surga nanti penghargaan kepada saya bisa berkurang karena saya sudah mendapatkannya di dunia. Kita di dunia hanya sebentar, tetapi di sana akan lebih lama.

    Saya berharap agar dengan adanya award ini akan lebih memudahkan dan meyakinkan para donatur. Karena saya adalah pengemis. Semua proyek yang saya bangun adalah hasil dari mengemis. Saya sedang mengemis Miserior Jerman untuk proyek yang lebih besar. Jadi, dengan adanya award ini akan lebih meyakinkan mereka.

    Bagaimana ceritanya sampai Romo bisa masuk ke Nusakambangan untuk melayani Misa dan penghijauan?

    Saya datang pada 1973, dan hingga 1979, ada banyak orang Katolik yang ditampung di Nusakambangan. Mereka hanya didampingi oleh para tentara. Lalu, saya diminta untuk membantu di sana. Setelah tahun-tahun itu, hanya ada satu orang Katolik yang ditahan di sana karena kasus pembunuhan. Dan beberapa tahun terakhir banyak orang Katolik dan Kristen dihukum di sana. Atas permintaan mereka ke Uskup Purwokerto, maka tiap Rabu minggu ketiga dalam bulan saya melayani Misa di sana. Ada juga seorang ibu pendeta yang sangat aktif dan rajin membantu.

    Di Lapas Nusakambangan, kami membentuk sebuah komunitas yang terdiri dari orang Katolik dan Kristen. Kami sering mengadakan Misa bersama. Saya juga memberi komuni untuk mereka yang membutuhkan. Di sini kami tidak membeda-bedakan. Kami melayani semua orang sebagai satu komunitas tanpa membedakan agama mereka.

    Mengenai penghijauan, sebelumnya saya mendengar bahwa ada program dari pemerintah daerah untuk penanaman pohon albisia di Nusakambangan. Tetapi, nyatanya itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya uang. Maka, saya mulai membantu beberapa petani miskin untuk menanam juga. Lalu saya dipanggil oleh Kakanwil Hukum dan HAM Jawa Tengah karena mereka merasakan acaman dari kehadiran petani liar ini. Tetapi, saya berusaha untuk meyakinkan mereka bahwa para petani itu bukanlah ancaman. Mereka harus diberdayakan agar membuat Nusakambangan menjadi hijau.

    Dari semua yang sudah Romo kerjakan, adakah sesuatu yang yang masih diimpikan?

    Masalah kemandirian. Lembaga donor luar negeri selalu omong soal capacity building. Tetapi, menurut saya, mereka tidak serius. Banyak LSM dibangun, tetapi ketika proyek selesai, LSM bubar. Untuk membangun kemandirian, diperlukan uang. Kelemahan kita adalah ketergantungan pada dana dari luar negeri. Saya sedang mengajukan proposal ke Miserior Jerman agar mendapatkan dana abadi untuk pembangunan infrastruktur. Saya berharap, award ini bisa membantu
    .

    Stefanus P. Elu


    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News