HIDUPKATOLIK.com - Regina Dusut mengalami cobaan yang membuatnya semakin pasrah kepada Tuhan. Dia belajar, semakin pasrah, dia semakin kuat.
Malam itu, Regina Dusut masih berada di Flores. Ia mendengar kabar, suaminya Frans Malley dilarikan ke rumah sakit lantaran penyakit yang tiba-tiba menimpanya. Semalaman Regina mondar-mandir mencari telepon di rumah-rumah tetangga untuk menanyakan kabar tentang suaminya. Tak ada jawaban pasti tentang penyakit tersebut, yang diketahuinya suaminya jatuh pingsan ketika sedang menonton berita di televisi.
Yang terbayang dalam pikiran Regina hanyalah kondisi suaminya yang terbaring lemah di rumah sakit. Dalam pikirannya, Regina hanya bisa berpasrah kepada Tuhan. "Saya yakin, Tuhan pasti menjaga dan menyertai suami saya," ungkap Guru SMP VI Kupang ini dengan nada pasrah.
Dua hari setelah malam itu, Regina kembali ke Kupang untuk melihat secara langsung keadaan suaminya yang dirawat di Rumah Sakit Umum Prof Dr Johanes Kupang. Sebagai seorang ibu yang penuh kasih, Regina senantiasa penuh perhatian menjaga suaminya, tanpa mengenyampingkan tugasnya sebagai ibu dari lima anak dan seorang anak perempuan dari kakaknya, yang semuanya masih di bangku pendidikan.
Semakin memburuk
Sejak malam itu, tepatnya Juni 2005, kondisi suaminya semakin memburuk. Suaminya menderita stroke. Kaki kirinya tak mampu digerakkan lagi, namun ia masih sanggup berdiri dengan bantuan tongkat. Regina berusaha mencari semua cara pengobatan yang mampu meringankan dan menyembuhkan penyakit ini. Namun, semakin banyak usaha yang dicari, penyakit itu semakin mengganas. "Berbagai pengobatan telah saya cari. Mulai dari perawatan di rumah sakit sampai pengobatan alternatif. Namun, penyakit yang diderita suami saya ini bukannya membaik malah bertambah parah," katanya sedikit putus asa.
Namun, di balik semua itu, Regina melihatnya sebagai suatu cobaan yang Tuhan berikan kepadanya. Regina sadar, usaha yang dilakukannya sia-sia jika Tuhan telah merencanakan hal yang lebih besar dari cobaan tersebut.
Suatu ketika Frans merasa bosan karena terus berada di rumah. Ia ingin melaksanakan tugasnya seperti biasa. Karena hasratnya begitu besar untuk kembali ke sekolah dan mengajar lagi, maka Frans memanggil Afi, anak sulung dari lima bersaudara itu, untuk mengantarnya ke sekolah. Meskipun dilarang Regina, karena kondisinya masih lemah, Frans tetap ngotot. Akhirnya, denganpenuh keikhlasan Regina membolehkan suaminya pergi. Dua jam kemudian, Regina mendengar kabar bahwa suaminya terjatuh ketika sedang mengajar. Rasa marah dan takut menyelimuti pikiran Regina. Akhirnya, Frans pun diantar pulang oleh seorang teman gurunya. Sesampainya di rumah, Regina tidak bisa membendung rasa kesal dalam dirinya. Regina memarahi suaminya dan melarangnya untuk bekerja. Semuanya ini dilakukannya karena prihatin kepada suaminya yang masih lemah.
Disentuh Tuhan
Dalam pergumulannya sebagai ibu yang bertanggung jawab terhadap suaminya yang sakit dan anak-anaknya yang masih di bangku pendidikan, Regina terkadang merasa tak sanggup menjalani kehidupan ini. Airmata menjadi sahabatnya setiap hari. Semua keluh kesah dan kesedihannya, ia tumpahkan setiap malam dalam kamar di sudut rumahnya.
Kini, Tuhan menjadi sahabat Regina setiap hari. Mulai pagi, siang, senja, dan di waktu malam, Regina berada di dalam kamar doa itu, untuk menumpahkan semua perasaan yang dialaminya. Anak-anaknya pun diajaknya untuk terus berdoa bersamanya demi kesembuhan ayah mereka. Doa keluarga yang dilangsungkan setiap hari secara terus-menerus ini membuat Regina sekeluarga mendapat kekuatan yang berlimpah dari Tuhan. Ada banyak hal yang berubah, terutama dalam diri Regina. Regina menjadi lebih sabar, selalu tersenyum, dan lebih kuat menghadapi cobaan, khususnya penyakit yang diderita suaminya. Regina juga semakin berjuang untuk mengatasi kondisi keluarga yang ditimpa berbagai masalah, khususnya masalah keuangan yang muncul akibat mahalnya biaya pengobatan Frans.
Doa yang dilangsungkan terus-menerus ini, kemudian berubah menjadi sebuah kerinduan yang tidak bisa dilepaskan, khususnya bagi Regina. Ada banyak bentuk doa yang didaraskan setiap hari dengan sebuah ujud utama agar suaminya bisa disembuhkan dari penyakit tersebut, antara lain Novena kepada Roh Kudus, Novena Tiga Salam Maria, Novena Penyembuhan Ilahi, Doa Kerahiman Ilahi, Doa Koronka, Rosario, dan Doa Hati Yesus yang Mahakudus.
Dua tahun terlewati begitu saja, tanpa ada tanda-tanda kondisi Frans membaik. Yang terjadi, kesehatannya semakin memburuk. Bukan hanya kaki kirinya yang tidak mampu digerakkan, melainkan juga tangan kirinyamati total. Frans yang sebelumnya masih berjalan dengan memegang benda-benda di sekitarnya dengan kedua tangannya, kini harus menerima kenyataan bahwa ia hanya bisa duduk atau berbaring di tempat tidur.
Namun, semua itu tidak membuat Regina putus asa. Regina semakin bertekun dalam doa. Ia semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Semua perhatiannya hanya diarahkan kepada Tuhan. Bahkan, setiap malam Regina berdoa sampai tak sadarkan diri. Ia mengalami kedekatan yang mendalam denganTuhan. "Saya merasa bertemu Tuhan. Pernah terjadi ketika saya sedang berdoa, saya merasa berjalan di suatu padang yang luas. Saya merasa sendiri. Namun, ada seseorang yang memegang tangan saya. Saya tidak tahu siapa dia sebenarnya. Ketika perasaan itu hilang, saya merasa kaget karena saya mengira saya telah terjatuh. Akan tetapi, ketika saya membuka mata, ternyata saya masih dalam posisi saya semula, yakni sedang berlutut. Akhirnya, saya melanjutkan doa saya," ujarnya bersaksi.
Kekuatan doa Regina semakin hari semakin bertambah. Ia tak pernah melewatkan satu hari pun untuk terus berdoa. Baginya, semakin ia berdoa, semakin ia diteguhkan dalam menghadapi kenyataan pahit yang menimpa suaminya. Regina berdoa dan terus berdoa memohon kesembuhan dari penyakit yang dialami suaminya. Namun, apa daya? Setelah tiga tahun berlalu, kondisi suaminya semakin parah. Penyakit ini terus menyerang suaminya. Bukan hanya kaki dan tangan yang tidak bisa digerakkan lagi, bahkan suaminya tidak bisa berbicara. Kata yang bisa diucapkan oleh suaminya hanyalah "mama", sebutan untuk Regina.
Pada minggu kedua November 2009 terjadi berbagai peristiwa yang sangat mengejutkan keluarga Regina. Tubuh suaminya berubah total. Hanya kulit pembungkus tulang yang menempel di tubuh Frans. Padahal, setiap hari makanan yang diberikan tidak pernah kurang dari biasanya. Kondisi Frans semakin lemah. Ia hanya bisa berbaringdi tempat tidur tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Akhir penderitaan
Pada 8 Desember 2009, Regina pergi ke Atambua untuk mengikuti upacara penerimaan jubah anaknya yang kedua. Sebelum pergi, Regina berpesan kepada suaminya bahwa ia hanya pergi satu malam. Namun karena lelah, Regina menunda keberangkatannya ke Kupang keesokan harinya.
Begitulah, kehidupan mempunyai kisah yang tak terbantahkan. Pagi itu, tepatnya pada 9 Desember 2009 pukul 03.30 WITA, Frans meninggal dunia. Penyesalan pun menimpa Regina. Setelah melihat suaminya terakhir kali, akhirnya Regina sadar bahwa suaminya telah pergi ke tempat yang lebih layak. Ia sadar, Tuhan telah menunjukkan suatu hal yang mungkin lebih baik bagi keluarganya. "Tuhan telah melepaskan belenggu yang sudah lama dipikul suami saya tercinta. Dengan kematian ini, rasa sakit dan penderitaan yang dialami suami saya berakhir. Saya yakin, jiwanya sedang berjalan menuju alam yang penuh kebahagiaan dalam Kerajaan Surga," kata warga Paroki Katedral Kristus Raja Kupang ini penuh keyakinan.
Kini, Regina semakin berpasrah pada kehendak Tuhan. "Tuhan telah memberikan dia kehidupan yang layak di bumi ini, maka Tuhan pun berhak mengambilnya kembali. Saya percaya, Tuhan telah menganugerahkan sebuah cobaan yang membuat saya kuat, meskipun saya merasa tidak sanggup memikulnya.…"
Hyasintus Asalang
Semakin Pasrah, Semakin Kuat
Tag

Be Social with IYAA