HIDUPKATOLIK.com - Betapa berat tugas penulis skenario, sutradara, dan editor film Soegija. Mgr Albertus Soegijapranata SJ, adalah tokoh Katolik yang hidup selama 67 tahun antara 1896-1963. Sadar akan panjangnya rentang waktu tersebut, film ini hanya mengambil episode sembilan tahun antara 1940 sampai 1949. Tahun 1940 dipilih, karena saat itulah Paus Pius XII menunjuk Soegijapranata menjadi uskup pribumi pertama untuk Vikaris Apostolik Semarang. Tahun 1949 adalah tahun penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda ke Republik Indonesia Serikat.
Pilihan tahun 1940-1949 tepat, karena pada waktu itulah Soegija berperan sangat besar dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Pada periode itu pulalah terjadi transisi kekuasaan dari Pemerintah Hindia Belanda ke Pemerintah Balatentara Jepang (1942), Proklamasi Kemerdekaan (1945), dan Perang Kemerdekaan (1945-1949). Film Soegija memang bukan film dokumenter, hingga pengambilan satu episode tertentu sangat diperlukan. Namun demikian, rentang waktu itu masih sangat panjang, dan sangat banyak hal penting terjadi di Tanah Jawa. Maka film ini harus memilih potongan-potongan sejarah, yang paling menarik, untuk dikemas sebagai tontonan selama dua jam.
Di sinilah akan timbul silang pendapat. Bagi produser dan seluruh awak film, “mozaik peristiwa sejarah” yang dihadirkan selama dua jam ini sudah melalui serangkaian kerja keras. Pertama penelitian terhadap kisah hidup Soegijapranata sendiri. Di sini para peneliti diuntungkan, sebab Soegija, yang pernah dididik oleh Pastor van Lith (Franciscus Georgius Josephus Van Lith), punya tradisi menulis dengan tertib. Soegija, yang kemudian menjadi Uskup Agung Semarang, Uskup Militer, dan diberi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno, meninggalkan catatan harian, yang cukup lengkap.
Dari hasil penelitian yang telah dibukukan itulah kemudian diteliti lebih lanjut, untuk dibuat sebuah rangkaian cerita, dengan menghadirkan tokoh-tokoh lain. Baik tokoh sejarah yang riil, maupun tokoh fiktif. Cerita itu kemudian dijadikan sebuah skenario, dan dilanjutkan dengan proses casting, pengambilan gambar, serta editing. Andaikan yang difilmkan adalah Musso, tokoh pemberontakan Partai Komunis Indonesia di Madiun, 1948; maka adegan heroisme bisa dibangun dengan lebih mudah. Sebagai tokoh yang kontroversial, alur cerita kehidupan Musso sudah sangat menarik.
Meski peran Soegijapranata sangat penting dalam sejarah Kemerdekaan RI, akan tetapi tokoh ini memilih pendekatan “silent diplomacy”. Datar, juga membosankan, meskipun sangat efektif. Kisah perjuangan Jenderal Soedirman, atau peran Soeharto dalam “Serangan Oemoem 1 Maret”, ketika difilmkan juga tidak menjadi tontonan yang menarik. Film “Enam Djam di Djogja” garapan Usmar Ismail (1950), masih lumayan, dibandingkan dengan Janur Kuning, garapan Alam Surawidjaja (1979), yang demikian menonjolkan peran Soeharto. Nasib Film Soegija, masih belum bisa diketahui, karena baru akan beredar pada awal Juni 2012 ini.
Redaksi

Be Social with IYAA