• ??? ????
  • ??? ????
  • Timor Leste dalam Masa Pembangunan

    Mon,14 May 2012 | 10:00

       
    Tag

    sajian utama, patung Cristo Rei, Tanjung Fatukama, Paroki St Antonius Padua Motael, Dili, Timor Leste

    HIDUPKATOLIK.com - Pukul 12.15 WITA, mobil Isuzu Elf 2000, PARADISE travel & tour meninggalkan Kota Atambua, NTT menuju Batugade-Maliana perbatasan Indonesia-Timor Leste. Perjalanan ini ditempuh sekitar satu jam.Di Batugade-Maliana, semua penumpang travel harus melewati tiga pos pemeriksaan: Pos Polisi Indonesia, Pos TNI, dan Pos Tentara Timor Leste. Mereka memeriksa kelengkapan paspor, barang-barang bawaan hingga pembayaran visa.Hari itu, Rabu, 4 April 2012. Terik matahari cukup panas. Tidak banyak orang yang lalu-lalang. Beberapa orang menceritakan, biasanya perbatasan ini ramai oleh orang yang keluar masuk Timor Leste. Tapi, sekarang agak sepi karena menjelang Paskah dan Pemilu Presiden Timor Leste.Meski demikian, tampak beberapa anak usia baya dan pemuda tetap sedia menawarkan diri untuk membantu membawakan barang bawaan bagi mereka yang membutuhkan. Sebab, ketika sampai di Pos TNI semua penumpang harus mengangkut sendiri barang-barangnya untuk berpindah ke mobil travel dari Dili, Timor Leste. Di antara mereka juga ada yang menawarkan penukaran uang dari rupiah ke dolar Amerika. Satu dolar senilai dengan Rp 10.000. Maklum, semua transaksi di Timor Leste memakai mata uang dolar Amerika.Setelah semua pemeriksaan dan urusan administrasi selesai, kami kembali melanjutkan perjalanan. Lantunan lagu Panbers, lagu Tetun, dan Portu dari sound travel menemani perjalanan kami hari itu. Di sisi kiri dan kanan jalan, berjejer rumah-rumah penduduk yang masih tampak sangat sederhana. Lebih dari setengah rumah-rumah itu masih berdinding bebak dan beratap daun. Sementara pemilik rumah duduk santai di beranda rumah atau di bawah pohon di sekitar halaman rumah.Kota DiliSekitar pukul 06.00 waktu Timor Leste, satu jam lebih cepat dari WITA, kami memasuki ibu kota Negara Repú­­blica Democràtica de Timor Leste, Dili. Suasana kota juga tampak sepi, tidak banyak aktivitas. Hanya beberapa mobil maupun motor yang masih lalu-lalang. Beberapa buruh kasar yang memperbaiki jalan pun berarak langkah kembali ke rumah.Ribuan umat mengikuti Misa Sabtu Suci di Paroki St Antonius Padua Motael, Dili, Timor Leste. [HIDUP/Stefanus P. Elu]Menjelang perayaan Paskah, hampir semua aktivitas masyarakat terhenti. Kantor dan sekolah diliburkan sejak Senin setelah Minggu Palma. Para petani pun beristirahat dari aktivitasnya. Mereka memilih berdiam di rumah untuk mempersiapkan diri memasuki Tri Hari Suci.Saat malam menjelang, susana kota sedikit terasa mencekam. Jalan-jalan sepi. Polisi Timor Leste melakukan patroli, menyisiri sudut-sudut kota. Selain menertibkan para pengendara mobil dan motor yang tidak memiliki surat dan perlengkapan standar, mereka juga mengawasi kota karena situasi politik sedang kurang kondusif dalam menghadapi Pemilu Presiden.Secara keseluruhan Kota Dili sedang berada dalam masa renovasi besar-besaran pasca kemerdekaan. Sejak mendapat pengakuan internasional untuk lepas dari Indonesia dan menjadi negara sendiri pada Mei 2002, pembangunan masih terus diupayakan. Perluasan jalan, pembangunan pasar, rumah penduduk, dan rumah toko menjadi pemandangan sehari-hari. Karena kegiatan ini Kota Dili kelihatan gersang dan berdebu. Beberapa gedung bekas terbakar saat tragedi 1999 masih belum semuanya direnovasi.Perayaan PaskahMayoritas penduduk Timor Leste beragama Katolik. Hal itu tampak nyata ketika berlangsung Misa dan Jalan Salib selama Tri Hari Suci. Ketika Misa sedang berlangsung, yang tampak hanya kerumunan orang di lingkungan gereja-gereja. Sementara di tempat lain sepi. Saat Misa Kamis Putih, hampir 3.000 umat menghadiri Misa di Paroki St Maria Imaculata Balide yang berdekatan dengan kuburan Santa Cruz.Misa berlangsung di halaman, karena gedung gereja tidak bisa menampung umat yang datang untuk menghadiri Misa.Keesokan harinya, sekitar 2.000 umat mengikuti Jalan Salib di Patung Cristo Rei (Kristus Raja) di Tanjung Fatukama, Dili. Uskup Dili, Mgr Alberto Ricardo da Silva, bersama beberapa imam, suster, dan umat merenungkan kisah sengsara Yesus Kristus sambil menaiki lebih dari enam ratus anak tangga untuk sampai ke puncak bukit, tempat Patung Cristo Rei. Mereka berdoa di setiap stasi yang berjumlah 15, dengan stasi akhir Kebangkitan Yesus. Selain di sini, di beberapa paroki lain di sekitar Kota Dili juga diadakan Jalan Salib yang dihadiri ribuan umat.Pada kesempatan Jalan Salib ini Uskup Ricardo berpesan, “Semoga penderitaan Kristus semakin menghidupkan umat di sini, karena Kristus masih hidup di tanah Timor.” Mengutip pesan Beato Yohanes Paulus II, Uskup Ricardo berharap agar umat bisa menjadi garam dan terang dunia. Umat bisa mengambil hikmah dari penderitaan Yesus Kristus untuk dihayati dalam kehidupan sehari-hari.Misa Malam Paskah juga diselenggarakan di halaman Paroki St Antonius Padua Motael, karena gedung gereja tidak cukup untuk menampung lebih dari 5.000 umat yang datang. Dosen Hukum Kanonik, Seminari Tinggi Diosesan StPetrus dan Paulus Fatumeta, Dili, Pastor Dominggus Sequera, yang menjadi selebran utama, dalam khotbahnya mengemukakan, perayaan Paskah adalah perayaan kemenangan yang memberi harapan di tengah ketiadaan harapan dan membawa terang di tengah kegelapan. “Semoga momen Paskah yang bertepatan dengan Pemilihan Umum Presiden Timor Leste ini, mampu menginspirasi masyarakat agar menciptakan suasana yang aman dan damai, suasana perjuangan tanpa kekerasan.”Pastor Dominggus mengajak umat Timor Leste agar tetap memelihara dan berpegang teguh pada perilaku hidup yang telah diwariskan Kristus. Kebangkitan Kristus membawa kehidupan. Yang tidak percaya menjadi percaya, yang tidak berpengharapan memiliki harapan.Stefanus P. Elu/F. Pongky Seran

    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News