• ??? ????
  • ??? ????
  • Jas Merah Untuk Masa Depan

    Mon,27 February 2012 | 11:35

       
    Tag

    How to Carve Wood

    Tulisan 1:
    Jas Merah Untuk Masa Depan
    My future is my past*
    (*dipetik dari judul lagu band God Must Be Crazy)
    Teks. Edo Wallad

    Bila ada seseorang yang ingin saya temui sekarang namun tidak bisa karena sudah terlanjur meninggalkan dunia, beliau adalah kepala sekolah saya ketika SMA dulu. Masih tergambar kepala saya saat jam enam pagi, diiringi rintik hujan, beliau turun dari Vespa bututnya dengan hanya mengenakan celana pendek dan sandal jepit dibalik jas hujan, sambil menenteng tas. Tak lama kemudian dia keluar dari ruangannya dengan sudah mengenakan setelan safari abu-abu dan mulai bertugas.

    Selain kepala sekolah beliau juga menjalani tugas sebagai guru sejarah. Dan saya selalu teringat ketika beliau menceritakan betapa pentingnya sejarah buat kita, ketika dengan semangat dan guyon ia bercerita tentang peninggalan lingga dan yoni yang menggambarkan alat kelamin manusia dan tidak lupa ketika ia menampilkan jargon dari Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno; Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, begitu kepanjangannya. Itulah tajuk pidato Ir. Soekarno sebelum lengser dari kursi kepresidenan. Pesan singkat agar orang tidak melupakan sejarah berujung menjadi harapan hampa. Ketika sejarah hanya sekedar menjadi tanggal yang diperingati sebagai seremoni. Arti sebenar-benarnya dari peristiwanya itu sendiri jarang dipahami secara benar.

    Bahkan demikian juga dengan Soekarno, presiden pertama RI yang juga dikenal sebagai founding father republik ini. Di masa Orde Baru (Orba) peran Soekarno dikerdilkan sebatas sebagai proklamator atau presiden pertama RI yang di akhir masa pemerintahan tersangkut dengan ideologi komunisme yang dikembangkan oleh PKI, tidak pernah terungkap bagaimana pemikiran-pemikiran Soekarno dan jiwa besarnya sebagai tokoh legendaris, ia dikenal sebagai orang yang visioner, populis, orator, dan pemimpin yang karismatik. Hal inilah yang bisa terjadi kalau kita tidak mau benar-benar mempelajari sejarah.

    Secara general mempelajari sejarah bukan hanya berarti mempelajari kurikulum sejarah yang diajarkan sekolah dengan buku keluaran PDK dan dibayar secara mencicil. Walaupun pada kenyataannya pelajaran itu memang sangat menarik. Saya sendiri dulu sering tenggelam bersama komputer dan internet menjelajahi sejarah kemanusiaan dengan timeline dan highlight-nya yang sangat menakjubkan. Karena dengan mengetahui sejarahnya, Anda akan tahu kenapa Jerman dulu ingin menguasai Eropa, kenapa Amerika Serikat, Inggris, dan Australia bersekutu dan hal-hal lainnya yang terjadi kemudian.

    Dengan mempelajari sejarah kita juga bisa mengetahui kenapa suatu bangsa berkonflik, kenapa ada perbedaan, kenapa Malcolm X sangat krusial, hingga akhirnya Anda akan berterima kasih pada Graham Bell ketika menelepon pacar Anda, berterima kasih pada Thomas Edison ketika berjalan di trotoar Sudirman malam-malam, Anda juga bisa tahu kenapa di Indonesia ada tujuh hari dan empat puluh hari-an setelah orang meninggal padahal di Arab tidak ada, atau bahkan Anda akan mengucap syukur atas diciptakannya Al Farabi ketika mendengar lagu Madonna.

    Bagaimana mempelajarinya? Dan apa yang gunanya langsung terasa bagi hidup kita? Tidak perlu jauh-jauh, pelajari dulu sejarah diri kita masing-masing. Setelah mempelajarinya barulah Anda tahu bagaimana Anda terbentuk menjadi manusia yang sekarang ini. Karena mau tidak mau masa lalulah yang membentuk Anda. Belajar dari pengalaman, karena pengalaman adalah guru yang terbaik, begitu kira-kira orang tua kita dulu menjabarinya. Kita hidup dan belajar, “Learning is like breathing – we do it all the time”. Kita harus bisa belajar melalui dari hidup dan diri kita sendiri. Beberapa dari pembelajaran ini didapatkan dengan sengaja dan direncanakan, dan beberapa datang sebagai hasil yang kita peroleh dari pengalaman kita dengan alami.

    Meskipun banyak orang yang telah menyadari nilai pembelajaran yang kita dapat dari pendidikan formal, kita tidak selalu bisa menempatkan nilai yang setara dengan pepmbelajaran melalui informal learning. Padahal pada kenyataannya, justru hampir seluruh hidup kita ilmu yang diperoleh didapat dari pengalaman dalam menghadapi hidup sehari-hari dengan mengamati orang lain, bertanya, menyelesaikan masalah, mengalami kesuksesan dan kegagalan. Bahkan pada kenyataannya semua teori yang kita dapat dari buku, hanyalah sebuah opsi shortcut hasil dari pengalaman hidup pembuat teori.

    Ingat guru tidak pernah mengajarkan kita bagaimana mengendarai sepeda atau mobil, mereka juga tidak pernah mengajarkan bagaimana cara memakaikan kondom, atau mengajarkan selera Anda terhadap lukisan abstrak atau lagu house. Mereka juga tidak pernah mengajarkan bagaimana harus beretika terhadap atasan atau bawahan. Atau jika Anda seorang olahragawan, Anda tidak pernah diajarkan bagaimana harus menendang penalti di bawah tekanan sepuluh ribu penonton. Anda juga bisa mempunyai trik-trik selingkuh tanpa ketahuan secara sempurna, bukan dari siapa-siapa. Semuanya Anda dapatkan melalui pengalaman.

    Yang lebih gila lagi seringkali fakta menyatakan bahwa kita tidak mau mempercayai teori itu sebelum kita mengalaminya sendiri. Satu contoh masih ingat ketika orang tua kita atau guru berkata; “hidup itu sudah susah, jangan ditambah susah!” Dan ketika kita remaja sambil melengos pergi ‘nongkrong’dengan teman-teman kita mengabaikannya. Lalu kita mencoba bermain-main dengan kesusahan itu dengan melakukan kenakalan-kenakalan, yang akhirnya menyusahkan diri kita sendiri juga. Sampai akhirnya kita dewasa dan sambil tertawa kecil berkata, “ternyata memang benar apa kata bokap!”. Sementara ayah kita juga tertawa mengejek; “kata babe juga ape!”

    Belajar dari pengalaman melibatkan lebih dari sekedar pengalaman itu sendiri. Ini juga melibatkan berpikir melalui pengalaman untuk menginterpretasi dan menjabarkan artinya, untuk meningkatkan pengertian, pengetahuan. dan keahlian kita.
    Pepatah tak berhenti mengingatkan, seperti ‘bahkan keledai tidak akan jatuh di lubang yang sama’. Begitu juga kita harus mengambil pelajaran dari kegagalan yang pernah kita alami. Hal ini harus dipraktekkan dalam segala aspek kehidupan. Baik urusan kerjaan, gaya hidup, bercinta, atau bahkan dalam memilih calon pemimpin kita di Negara tercinta. Kalau sudah pengalaman dipimpin yang seperti A gagal, maka jangan lagi memilih yang setipe dengan si A tadi. Atau untuk urusan fisik dan kesehatan, kalau sudah tahu makan kerang rebus akan menimbulkan gatal-gatal dikulit Anda, ya jangan mentang-mentang seafood di Gunung Sahari paling terkenal dengan kerang rebusnya yang ‘mantap’, Anda latah ikut memesan makanan itu.

    Pada dasarnya tulisan ini kembali hanya sekedar mengingatkan, karena pada prakteknya saya yakin para pembaca sudah melakukan hal ini. Namun ketika rutinitas datang dan masalah datang silih berganti, kita akhirnya sering memiliki kecenderungan mengulangi kesalahan yang sama dalam hidup. Pentingnya belajar dari sejarah dan pengalaman membuat kita mengerti dan dapat membedakan yang baik dan benar buat kita, dan mana yang tidak. Kita juga dapat menyaring nilai-nilai yang baik dan masih relevan untuk diusung dan mana yang tidak, karena seperti kita ketahui, nilai juga bergeser seiring dengan waktu.
    Akhirnya kembali lagi pada objektif kita dalam hidup apa, dan kita akan ‘menyetel’ arah kemana kita akan melangkah, karena masa depan kita mau tidak mau juga ditentukan oleh masa lalu, dan masa sekarang. Memang ada baiknya menjalani hidup apa adanya, namun sedikit rencana akan membuatnya terasa lebih terarah dan teratur.
    Dan ingat kata lirik sebuah evergreen itu…“don’t forget to remember…”


    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News