• ??? ????
  • ??? ????
  • Tiga Brimob Tewas Didor, Seorang Asal Pangkep

    Fri,21 December 2012 | 10:05

       

    PALU, FAJAR -- Untuk kesekian kalinya, anggota kepolisian menjadi korban penembakan kelompok bersenjata di Kabupaten Poso. Kamis, 20 Desember, tiga personel Brimob Polda Sulteng, tewas setelah diberondong peluru oleh kelompok bersenjata di Desa Kalora, Kecamatan Poso Utara, Kabupaten Poso.


    Dari tiga orang itu, seorang di antaranya berasal dari Desa Bonto Manai, Kecamatan Labakkang, Kabupaten Pangkep. Kemarin, keluarganya berkumpul di rumah orang tua Briptu Ruslan menunggu kabar duka itu.
     
    Sebelumnya, pada 17 Oktober 2012, dua orang polisi di Poso juga ditemukan tewas di Desa Kalora. Keduanya diciduk saat pulang dari menghadiri sebuah acara hajatan. Mereka adalah Briptu Andi Sappa dan Brigadir Sudirman. 
    Keterangan resmi yang disampaikan Humas Polda Sulteng Kamis kemarin menyebutkan, sekitar pukul 10.00 Wita satu regu personel Brimob Polda Sulteng berjumlah 10 orang melakukan patroli di wilayah Desa Kalora. Tiba-tiba diberondong peluru oleh beberapa orang dari atas bukit, tidak jauh dari tempat anggota Brimob berpatroli.


    Sempat terjadi baku tembak, namun enam anggota Brimob terlebih dulu terkena peluru pelaku. “Akibatnya tiga anggota kepolisian tewas, sementara tiga lainnya luka berat,” jelas Kabid Humas Polda Sulteng, AKBP Soemarno kepada wartawan, kemarin.


    Tiga anggota Brimob yang gugur tersebut masing-masing Briptu Ruslan, Briptu Winarto, serta Briptu I Wayan Putu Ariawan. Sementara tiga korban luka berat terkena peluru yakni Briptu Eko Wijaya Sumarno (luka di perut kiri), Briptu Siswandi Yulianto (luka di mulut tembus rahang kiri), serta Briptu Lungguh Unggara (luka di paha kiri).  “Hingga kini kami masih melakukan pengejaran terhadap para pelaku,” terang Soemarno.


    Diakui Kabid Humas, jalur tersebut sering dilakukan patroli oleh anggota Brimob, karena daerah tersebut memang disinyalir menjadi basis kelompok bersenjata di Kabupaten Poso. Pelaku yang melakukan penyerangan, diduga kuat masih satu kelompok dengan sejumlah terduga teroris yang telah diamankan petugas.


    Diduga para pelaku penyerangan terhadap patroli Brimob di Kalora, merupakan kelompok terlatih dalam menggunakan senjata api. Kuat dugaan, senjata yang digunakan jenis laras panjang. “Dari informasi jarak antara bukit pelaku menembak, dengan jarak para anggota Brimob, sejauh 50 meter,” sebut Kabid Humas.


    Sementara itu, pantauan di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Palu sekitar pukul 14.00 wita kemarin, jenazah salah seorang anggota Brimob yang diketahui merupakan Briptu I Wayan, tiba di rumah sakit tersebut menggunakan satu ambulans dari Poso. Satu korban luka berat lainnya yang juga dirujuk ke RS Bhayangkara yakni Briptu Siswandi Yulianto.
    Kepala RS Bhayangkara Kompol dr M Haris mengatakan, dari hasil visum korban Wayan, terdapat luka tembak di dada. Sementara Briptu Siswandi mengalami luka di mulut tembus rahang kiri.


    Usai dilakukan visum luar dan dimandikan, jenazah Wayan selanjutnya dibawa ke Mako Brimob Mamboro untuk disemayamkan. Selain Wayan, dua rekannya yang juga gugur dalam tugas, Ruslan dan Winarto, akan ikut disemayamkan di Mako Brimob.


    Rencananya, Wayan akan dipulangkan ke kampung halamannya di Bali Jumat hari ini, sementara Ruslan ke kampung halamannya di Pangkep, Sulawesi Selatan, sedangkan Winarto di Jawa Tengah.
     
    Duka di Pangkep


    Rasa tidak percaya masih menyelimuti benak Hj. Salimah, ibunda Briptu Ruslan, polisi yang tewas saat baku tembak di Kabupaten Poso. Saat ditemui FAJAR di kediamannya Desa Bontomanai, Kecamatan Labakkang, Pangkep, kemarin, wajahnya tampak kalut, berharap kabar meninggalnya putranya itu salah.


    Demikian juga anggota keluarga lainnya yang tinggal bersama Hj Salimah. "Saya tidak percaya, kenapa dia (Briptu Ruslan) begitu cepat meninggal," ucap Hj Salimah, ibunda almarhum, dalam dialeg Makassar.


    Tak ingin menambah kesedihan Hj Salimah, FAJAR yang disambut sanak keluarga, memilih untuk berdialog dengan keponakan almarhum, Herlina. Perempuan berusia 20 tahun ini menyebutkan, H Surullah, ayah Briptu Ruslan tengah berada di Makassar untuk mengurus keperluan pemulangan jenazah putranya dari Palu, Sulteng.


    Menurut
    Herlina, Ruslan sebenarnya berencana untuk mengambil cuti pulang ke kampung halamannya di Kecamatan Labakkang, Pangkep untuk merayakan tahun baru bersama keluarga. "Tetapi, rencana tersebut terhalang karena dia harus melakukan pengamanan natal dan tahun baru. Rencana cuti itu pun terpaksa dibatalkan," ungkap perempuan berkerudung ini.


    Herlina yang sudah dua bulan terakhir ini ditugaskan merawat putri kedua almarhum bernama Alicia Aprilia, 1,5 tahun, menuturkan bahwa sejak isu tentang keluarga polisi menjadi target pembunuhan teroris, ia diminta oleh Ruslan untuk merawat Alicia di Makassar.


    Dia mengungkapkan, malam sebelum kejadian, Alicia terbangun dan menangis keras memanggil-manggil bapaknya. "Kejadian ini tidak biasa, mungkin firasat anak kecil yang mau ditinggalkan sama orang tuanya. Dia memanggil-manggil bapaknya," tutur nya sembari berlinang air mata.


    Sejak bertugas sebagai anggota Brimob Polda Sulsel, lanjut Herlina, almarhum langsung ditempatkan di Palu. Dia Bahkan menikah dengan perempuan pilihannya, di daerah tugasnya itu.
     
    Pelepasan Jenazah


    Tadi malam sekitar pukul 21.45 Wita, dua jenazah anggota Brimob Polda Sulteng yang tewas, Briptu Ruslan dan Briptu Winarto, telah diserahkan kesatuannya kepada pihak keluarga masing-masing. Penyerahan jenazah dilakukan dalam upacara pelepasan dinas kedua almarhum di Mako Brimob Detasemen B Pelopor, Poso.


    Pelepasan jenazah dihadiri Kapolres AKBP Eko Santoso, Wakil Bupati Poso Ir Samsuri MSi, serta pejabat Polri, TNI dan Pemkab Poso.


    Briptu Ruslan diserahkan ke pihak keluarga untuk dibawa ke rumah duka di Desa Toini Kecamatan Poso Pesisir. Sedangkan Briptu Winarto diserahkan ke keluarganya guna dibawa ke rumah duka di Kelurahan Lawanga, Poso Kota Utara.  Keluarga yang menerima jenazah adalah keluarga dari pihak istri masing-masing almarhum.


    Menurut rencana, setelah disemayamkan di rumah duka, jenazah langsung dibawa ke Palu untuk selanjutnya diterbangkan ke daerah asal masing-masing untuk dimakamkan. Briptu Ruslan diterbangkan ke Makassar sedangkan Briptu Winarto akan diterbangkan ke Boyolali, Jawa Tengah.
     
    Satu Pelaku Ditangkap


    Usai kontak senjata hingga menewaskan tiga anggota Brimob, petugas gabungan TNI dan Polri langsung menyisir wilayah Kalora.  Perburuan dilakukan di seputaran Gunung Taswinuni, Desa Kalora, yang diduga menjadi lokasi pelarian kelompok sipil bersenjata.


    Hasilnya satu orang warga asal Bima, NTB, diamankan sementara karena diduga sebagai pelaku. Polisi hingga kini masih mengejar delapan pelaku lainnya yang berhasil melarikan diri. Setelah menaklukan anggota Brimob, para penyerang membawa lari satu pucuk senjata SS milik Briptu Ruslan. "Begitu mereka menyerang dan korban jatuh dari motor, senjata korban langsung mereka rampas," sebut anggota polisi yang namanya enggan dikorankan.


    Wakil Kepala Polri Komjen Nanan Sukarna menerangkan bahwa kematian merupakan risiko bagi angota polri yang bertugas di wilayah sarat konflik seperti Poso. Tak heran jika anggota polisi pun menjadi incaran kelompok yang diduga teroris. "Itu risiko. Namun kita akan tetap dalami kasus ini secara komprehensif," tegasnya usai seminar Relasi Negara dan Agama dalam Sistem Demokrasi, Problematika Ngara Dalam Menangani Intoleransi Agama, di Universitas Paramadina, Jakarta, kemarin.


    Upaya lebih lanjut yang dilakukan Polri atas kasus penembakan terhadap Brimob itu, sebut Nanan, antara lain penambahan personel Brimob dari Mabes Polri untuk membantu operasi teror yang selama ini kerap terjadi di wilayah Poso. Dia mengungkapkan, personel bantuan tersebut akan tetap berada di Sulteng sampai batas waktu yang tidak ditentukan. (pe/jpnn)

    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News