• ??? ????
  • ??? ????
  • Nelayan Tradisional Indonesia Terpuruk

    Fri,25 May 2012 | 14:41

       

    WASPADA ONLINE

    MEDAN Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia (PNTI). Tamsil Linrung mengatakan, kehidupan nelayan tradisional di Sumatera Utara dewasa ini tidak hanya semakin jauh tertinggal di belakang, melainkan juga terpuruk dan termarginalkan.

    Oleh karena itu, Dewan Pimipinan Wilayah (DPW) PNTI Sumatera Utara yang baru saja dilantik ini dapat bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sumut dan instansi terkait seperti Dinas Kelautan dan Perikanan untuk membangun kehidupan nelayan tradisional tersebut, katanya di Medan, Rabu malam, ketika melantikt Sangkot Sirait menjadi Ketua DPW PNTI Sumatera Utara periode 2011-2015.

    Nelayan tradisional di Sumut, menurut dia, selama ini masih saja mengalami kendala dalam masalah ekonomi, sehingga tetap miskin dan kedepan harus dapat diperjuangkan agar semakin maju dan berkembang.

    Kita tidak ingin melihat kehidupan nelayan tradisional di provinsi ini dari tahun-tahun begitu-begitu saja, tidak ada memperolah kemajuan kata anggota DPR RI itu.

    Fenomena nelayan tradisional seperti ini, lanjutnya, harus dihilangkan dan dikikis habis, dan hal ini merupakan tanggung jawab Pengurus DPW PNTI Sumut untuk membina mereka agar lebih baik kehidupannya.

    Tunjukkan bahwa Pengurus DPW PNTI Sumut mampu berkiprah dan berkarya untuk mengangkat kehidupan nelayan tradisional di provinsi itu agar lebih baik dari tahun-tahun sebelumya, ucap Tamsil.

    Dia menambahkan, dalam melaksanakan tugas membangun perekonomian nelayan itu, DPW PNTI Sumut harus bersinergi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan di Provinsi Sumut.

    Pembangunan itu, misalnya mendirikan koperasi atau usaha kecil bagi nelayan tradisional, puskesmas, sekolah, infrastruktur dan sarana lainnya untuk kepentingan masyarakat nelayan, kata Tamsil.

    Ketua Dewan Penasihat DPW PNTI Sumut, Gus Irawan mengatakan, dewasa ini kehidupan nelayan tradisional masih saja tetap tergantung dengan para tengkulak dan jurangan ikan, baik mengenai pembiayaan melaut maupun menentukan harga penjualan ikan hasil tangkapan.

    Oleh karena itu, katanya, sampai kapan pun kehidupan nelayan tersebut tidak akan pernah maju dan berkembang seperti yang diharapkan, karena penyandang dana masih saja dilakukan para tengkulak.

    Untuk itu disyarankan kepada pengurus DPW PNTI Sumut dapat memberikan terobosan baru dengan memikirkan bagaimana caranya memperoleh dana untuk keperluan nelayan tradisional tersebut.

    Sehingga kehidupan nelayan tradisional itu tidak lagi tergantung pada tengkulak, dan mereka bisa bebas untuk mencari nafkah dan mendapatkan keuntungan yang berlimpah ruah dari hasil mencari ikan di laut, kata Dirut Bank Sumut itu.

    Ketua DPW PNTI Sumut, Sangkot Sirait dalam sambutannya mengatakan, nelayan tradisional saat ini harus bisa maju dan berkembang lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya.

    Saya tidak mau lagi melihat nelayan tradisional saat ini masih saja termaginalkan, dan cara-cara seperti ini harus perlu kita hilangkan, dan untuk perlu kerja sama dengan pemerintah untuk mengangkat harkat martabat nelayan tersebut, katanya.

    Selain itu, dia juga meminta kepada pemerintah harus bersikap tegas terhadap alat tangkap pukat trawl (harimau) dan pukat gandeng yang selama ini mengganggu wilayah tangkapan nelayan tradisional.

    Kita tidak ingin nelayan tradisional yang mencari ikan di tengah laut terganggu akibat masih beroperasinya alat tangkap yang dilarang pemerintah (pukat trawl).Ini harus disikapi secara arif dan bijaksana dan jangan sampai pendapatan nelayan semakin berkurang akibat alat tangkap yang selama ini merusak ekosistem di laut, kata Sangkot.

    Editor: PRAWIRA SETIABUDI
    (dat18/antara)

    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News