• ??? ????
  • ??? ????
  • Warga Segel Tower Telkomsel

    Wed,03 April 2013 | 10:52

       

    RUTENG, TIMEX-Puluhan warga gendang (keturunan) kampung Lawir, Kelurahan Lawir, Kecamatan Langke Rembong, Manggarai, Selasa (2/4) mengambil kembali lahan seluas 1 hektar yang dijadikan sebagai kebun contoh oleh keturunan raja Tamur. Di atas lahan itu ada menara Telkomsel yang disegel warga.Selama ini,lahan tersebut dikelolah secara pribadi oleh keturunan raja Tamur dan mengklaim sebagai pemilik pribadi.

    Disaksikan koran ini, puluhan warga dari gendang Lawir sejak pukul 08.00 Wita mendatangi lahan perkebunan contoh. Mereka membawa parang untuk memagari lahan seluas satu hektar tersebut. Di atas lahan tersebut juga terdapat gudang kayu, bengkel mobil dan tower milik Telkomsel.

    Para pemilik aset mengontrak lahan tersebut untuk kegiatan usaha dengan pihak keturunan raja yakni Stefanus Bugis Cs. Selain memagar seluruh lahan tersebut dengan menggunakan bambu, warga juga menyegel gudang dan tower tersebut sebagai pertanda untuk segera meninggal lokasi tersebut.

    Aksi warga Lawir dikawal ketat puluhan anggota Polres Manggarai. Hadir juga Kaban Kesbangpol Yos Nono dan Camat Langke Rembong, Yos Jehalut. Aksi memasang pagar ini tidak mendapat reaksi dari keturunan raja yakni Stefanus Bugis Tamur Cs yang mengklaim lahan tersebut selama bertahun-tahun.

    Pemangku adat gendang Lawir, Hendrikus Peor menuturkan, aksi mengambil kembali lahan ini diikuti oleh empat keturunan dan seluruh masyarakat Lawir. Dulu, katanya, nenek moyang menyerahkan dua lokasi kepada raja untuk dijadikan kebun percontohan yakni lingko (kawasan) sawah But dan lahan kering untuk tanam kopi. Setelah menjalankan kegiatan percontohan, lahan sawah dikembalikan kepada warga Lawir.

    Sedangkan kebun contoh tanaman kopi baru diambil kembali. Namun, katanya, sebelum itu tahun 1983 tokoh adat Lawir pernah mendatangi keluarga keturunan Raja Tamur tetapi tidak ada respon. Nenek moyang serahkan lahan tersebut dulu untuk kebun contoh, bukan untuk kepemilikan pribadi keluarga raja, katanya. Karena itu, menurutnya tidak ada masalah jika warga mendesak untuk menarik kembali kebun tersebut dan diserahkankepada pemilih lahan.

    Dia menegakan, selama ini pihak keluarga keturunan raja mengklaim tanah tersebut sebagai lahan milik pribadi, bahkan mereka memberikan pemanfaatan kepada pihak lain dengan sistem kontrak kepada pihak lain selama bertahun-tahun seperti tower Telkomsel, gudang kayu, bengkel mobil dan sebagainya. Bahkan ada sebagian yang sudah dijual kepada warga lain. Inikan sudah tidak beres lagi, katanya.

    Dikatakan, selanjutnya lahan tersebut akan digunakan untuk kepentingan umum dan ke depannya tidak boleh ada pihak yang membongkar pagar tersebut. Sedangkan kepada pihak yang melakukan kontrak diminta uuntuk segera angkat kaki dari lokasi tersebut. Camat Langke Rembong, Yos Jehalut mengatakan pemerintah kecamatan berupaya menjadi mediator untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

    Warga gendang Lawir mengklaim lahan tersebut adalah milik mereka. Namun pihak keturunan raja Tamur juga tentu mempunyai alasan. Karena itu, katanya, kedua belah pihak segera dipertemukan untuk duduk mencari solusi. Namun, dia mengaku kasus ini sangat sulit diselesaikan di tingkat pemerintah sebab sama-sama bersikeras atas kepemilikan lahan. Sehingga jalur hukum adalah yang terbaik.

    Dikatakan juga, pihaknya mendekati para tua adat setempat agar bisa memberi toleransi kepada pihak yang mengontrak lahan tersebut untuk menjalankan aktivitas ekonomi. Kami akan mediasi untuk mempertemukan kedua pihak. Jika tidak ada solusi maka jalur hukum adalah pilihan terakhir, katanya. (kr2/ito)


    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News