• ??? ????
  • ??? ????
  • DPRD MBD Dinilai Hancurkan Persaudaraan Amerere

    Tue,04 September 2012 | 15:40

       

    AMBON - Pasca pemekaran kecamatan di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) khususnya di Pulau Dawelor dan Dawera yang sering disebut bumi Amerere, dipastikan hubungan persaudaraan akan hancur lebur akibat ulah dari kinerja Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang tidak profesional.

    Bagaimana tidak, tim survei dari DPRD, yang dipimpin oleh Selvianus Tiwery dan Manupy Lakburlawal telah menjanjikan bahwa ibu Kecamatan Dawelor dan Dawera pusatnya di Ilmarang. Hal itu bahkan disampaikan saat  dengar pendapat bersama seluruh kepala desa (Kades) di Letwurung, Kacamatan Babar Timur. Namun kenyataannya  menjadi terbalik. Ternyata ibu kota kecamatan ditetapkan di Watuwei.

    Padahal penunjukan Ilmarang sebelumnya tidak ada unsur kepentingan politik apapun karena dilihat dari letak geografis bahkan kesiapan  infrastrukturnya. Apalagi ada persetujuan pelepasan lahan yang nantinya digunakan untuk pembangunan fasilitas perkantoran sehingga lima negeri lainnya, masing-masing, Ilmarang, Welora, Nuryaman, Wiratan dan Letmasa menandatangani surat pernyatan mendukung ibu kota kecamatan di Ilmarang.

    ”Pak Sely Tiwery saat itu langsung mengatakan dalam forum pertemuan bahwa ibu kota kecamatan di Ilmarang karena sudah siap dari segala aspek. Pada saat itu juga Kades Watuwei tidak ikut dalam pertemuan tersebut bahkan tidak memasukan dena desa. Namun tiba-tiba ada peralihan ibu kota kecamatan di Watuwei membuat kita juga bingung penunjukkan pusat kecamatan itu memakai standar penilaian seperti apa. Ataukah ini hanya  mau menghancurkan keharmonisan hubungan kekeluargan di Bumi Amerere,” tegas Kepala Desa (Kades) Ilmarang, Rein Laimera, kepada RADAR AMBON, belum lama ini.

    Kata Laimera, DPRD MBD idealnya menjadi corong bagi masyarakat serta melestarikan budaya orang saudara di Kabupaten MBD khusus di Pulau Dawelor dan Dawera  bukan sebaliknya.

    ''Kehidupan sehati orang sudara di bumi Amerere merupakn titisan para leluhur  namun sungguh sangat disayangkan para wakil rakyat di daerah terkesan tidak menghargai dengan membalikan fakta yang tidak sesuai  statemen di depan masyarakat. Sudah pasti ini akan memperkeruh suasan kekeluargaan,’’ ujarnya.

    Karena itu ia mengharapkan agar kesepakatan penempatan ibu kota di Ilmarang harus merupakan harga mati.

    Sementara itu, salah satu tokoh pemuda asal Dawera, Nikolas Talle, juga mengamini apa yang disampaikan oleh Kades Ilmarang, Rain Laimera.

    Peralihan ibu kota kecamatan yang saat ini menjadi polemik  diduga merupakan skenario dari oknum pejabat Pasalnya, setelah berita dilansir koran ini pekan kemarin, ada oknum pejabat sebut saja Ch Kapressy yang juga Sekda MBD, ikut kebakaran jenggot dengan mengklarifikasi  tanpa memikirkan kerukunan orang sudara di bumi Amerere.

    Ia bahkan menilai  pernyataan Kapressy sama sekali tidak relevan dengan kondisi ril di lapangan.

    Karena itu, Talle mendesak DPRD MBD  segera meninjau kembali keputusan demi kedamaian dan ketentraman masyarakat di daerah tersebut.

    ''Kita akan menyampaikan surat pernyatan penolakan penempatan ibu kota kecamatan di Watuwei kepada DPRD dan Pemkab MBD dengan menguraikan kronologis pernyataan tim survei dari DPRD,'' ujarnya. (CR3)

    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News