• ??? ????
  • ??? ????
  • Foto Kekejaman Westerling di Sulsel Dibeberkan

    Fri,13 July 2012 | 09:40

       

    MAKASSAR, FAJAR -- Terkuaknya foto pembantaian Westerling yang dibeberkan  bekas prajurit Belanda Kota Enschede, Jacobus R, menjadi bukti kuat tentang peristiwa tahun 1946/1947 itu.

    Foto itu dibeber dalam beberapa situs berita edisi Kamis 12 Juli. Dalam foto itu terlihat likuidasi tiga orang Indonesia. Mereka berdiri membelakangi peleton tembak di tepi sebuah parit pada saat mereka mulai ditembaki dari arah belakang.

    Parit tersebut, seperti terlihat pada foto kedua, penuh dengan mayat orang-orang Indonesia yang telah lebih dulu dieksekusi. Sementara di tepi parit berdiri dua tentara Belanda, dikenali dari seragam mereka.

    Para ahli dari Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie/NIOD (Lembaga Dokumentasi Sejarah Belanda) dan Nederlandse Instituut voor Militaire Historie/NIMH (Lembaga Sejarah Militer Belanda) mengatakan, foto-foto tersebut belum pernah terlihat sebelumnya.

    Menurut Sejarawan Indonesia, Anhar Gonggong, foto yang menampilkan eksekusi warga Indonesia oleh tentara Belanda itu menggambarkan kekejaman Westerling di Sulawesi Selatan yang terjadi antara Desember 1946 hingga Maret 1947. "Foto pembantaian itu bisa menjadi landasan untuk mengatakan bahwa Belanda telah melakukan pembantaian di Sulsel," katanya via ponsel, Kamis, 12 Juli, malam tadi.

    Temuan foto tersebut, ujar Anhar, diharapkan dapat menjadi bukti otentik terkait aksi pelanggaran HAM yang dilakukan Belanda kepada warga Indonesia. Dia sendiri sudah dihubungi oleh peneliti dari Belanda untuk membicarakan foto yang saat ini menjadi perbincangan di kalangan ahli sejarah di Belanda.

    Anhar mengatakan, sebelumnya memang belum ada foto otentik tentang pembantaian tersebut. "Saya sendiri belum pernah lihat langsung foto-fotonya. Tapi saya pernah ditelepon untuk mengamati dan menganalisis langsung foto-foto itu. Hanya saja saya masih sibuk. Belum punya waktu luang," ujarnya.

    Dalam tragedi di Sulawesi Selatan di mana tentara Belanda berupaya membuat teror pada masyarakat yang menentang pendirian Indonesia Timur, sebanyak 10 ribu orang lebih tewas dibantai. Meski di tahun 1946-1950 Belanda melakukan kejahatan HAM hampir di seluruh wilayah Indonesia.

    Sabriah Hasan darai Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda (K.U.K.B) mengatakan, kejahatan yang dilakukan Westerling itu adalah dengan cara membawa pasukan dari desa ke desa dengan berjalan kaki, dari Sulawesi bagian selatan ke Sulawesi bagian utara. Di tiap desa yang disinggahi, pasukan Westerling mengumpulkan setiap warga.

    "Kami punya dokumen tentang foto-foto yang menggambarkan peristiwa itu, dan bisa jadi itu adalah kejahatan yang dilakukan Belanda di Sulawesi Selatan," katanya.

    Sementara itu, guru besar Ilmu Sejarah UNM, Prof Dr Andi Ima Kesuma menilai, meskipun telah ada bukti sejarah berupa foto, dia berharap agar peristiwa pembantaian itu tidak dinilai dengan uang. "Kami berharap agar kekejaman Westerling di Sulsel dan sekitarnya tidak dinilai dengan uang. Kalau pun ada dana kompensasi, sebaiknya diarahkan saja untuk pendidikan atau membuat memorial," imbuhnya.

    Peristiwa tersebut, kata dia, diawali dari Makassar, kemudian ke Parepare, Polewali, hingga ke beberapa wilayah Sulsel dan Sulbar. Kronologisnya, kata dia, sebenarnya tidak sebanyak 40.000 jiwa. "Kalau jumlahnya sebanyak itu, waah kita seolah seperti ayam saja," ujarnya.

    Menurutnya, angka 40.000 itu terlalu banyak. Hanya saja, kata dia, angka 40 sering diidentikkan dengan tradisi orang Sulsel. Seperti hari ke-40 atau semacamnya, jadilah ditulis pembantaian 40.000 jiwa. "Padahal sebenarnya, waktu pembantaian tersebut ada juga tahanan yang memang narapidana hendak dihukum mati. Jadilah seolah seluruhnya adalah warga sipil," ungkapnya.

    Ima Kesuma berharap, jika pengadilan Belanda memenangkan ataupun mengakui pembantaian tersebut, Sulsel tidak disamakan dengan Rawagede berupa pemberian uang atau kompensasi. "Kita orang Sulsel sebenarnya siri' (malu) jika perjuangan dinilai dengan uang. Itu pelanggaran harkat. Kita berharap agar Pemerintah Belanda meminta maaf dengan tulus," imbuhnya. (sam/sil)


    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News