Sarjana Masuk Desa

Fri,04 May 2012 | 16:53

KBR68H - Tahun ini para sarjana lulusan perguruan tinggi kembali berkesempatan untuk berkarya membangun desa. Pasalnya Kementerian Pendidikan Nasional bersama perguruan tinggi di 33 provinsi bekerja sama untuk mengirim ratusan sarjana ke pedesaan. Program yang dinamakan Sarjana Penggerak Pembangunan di Pedesaan (SP3) sebenarnya telah dilaksanakan pemerintah sejak tahun 1989. Seperti apa program ini? Apa pula manfaat yang bisa didapatkan para pesertanya?

Program SP3 sudah ada sejak tahun 1989 namun program tersebut berpindah tangan dari Kemendiknas ke Kementerian Pemuda dan Olahraga pada tahun 2004. Pada tahun 2009 SP3 berubah menjadi Pemuda Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan (PSP3).

Menurut Pelaksana Program Pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan Puji Mulyono, SP3 merupakan program unggulan dalam membentuk pemuda indonesia yang mandiri dan berdaya saing . Program ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan kebangsaan pemuda di pedesaan, mengembangkan kapasitas pemuda berpendidikan tinggi yang memiliki karakter kepemimpina. Nantinya dalam program ini para Sarjana akan dikirim ke daerah untuk menggerakkan potensi yang berada di pedesaan.

Syarat-syarat untuk menjadi peserta PSP3 antara lain adalah Sarjana, belum menikah, tidak terikat kontrak kerja dan bersedia tidak menjadi PNS selama terikat kontrak PSP3. Pelaksana Program Pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan Puji Mulyono mengatakan setiap tahun Pemerintah memberikan quota untuk sarjana yang akan mengikuti program ini. Kata dia untuk tahun ini Pemerintah telah menargetkan 1000 sarjana. Nantinya Pemerintah juga akan memberikan uang saku sebesar Rp 2.500.000 dan modal awal tahun Rp 5.000.000.

Salah satu alumni dari program PSP3 Cecep Syarifuddin mengungkapkan dirinya mengikuti program PSP3 pada tahun 2004 dan ditempatkan di Petamburan Jakarta Barat. Menurut dia di Jakarta saja masih banyak daerah yang bisa dikembangkan dengan program PSP3 seperti di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Sewaktu Cecep Syariffudin menjadi salah satu sarjana PSP3 di Petamburan, dia membantu warga disana untuk memasarkan bir pletok yang biasanya diproduksi warga pertamburan.

Sama halnya dengan Rifin Kustian, dia ditempatkan di Desa Pasir Kupa Rangkasbitung, Banten. Pada saat ikut PSP3 Arifin membantu di kantor kelurahan pasalnya, banyak warga disana yang mengenyam pendidikan hanya sampai tingkat sekolah menengah pertama. Dia juga mengakui selama dirinya disana, dia berusaha keras untuk mengubah pemikiran warga yang enggan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kedua alumni PSP3 ini berharap Pemerintah lebih intens untuk melakukan sosialisasi program PSP3 di setiap instansi daerah, agar desa-desa didaerah saling berlomba untuk bisa mengembangkan potensi kemajuan daerahnya melalui bantuan sarjana PSP3.

Berita Terkait