• ??? ????
  • ??? ????
  • Cara Jogja Atasi Kemacetan

    Wed,01 August 2012 | 11:02

       

    KBR68H, Jakarta - Kemacetan tidak hanya menjangkit ibukota Indonesia, Jakarta. Kini, kemacetan pun menjadi hal biasa di Yogyakarta. Di jalan utama Yogyakarta, kemacetan terjadi setiap saat, mulai pagi, siang hingga malam hari.


    Kemacetan ini diakibatkan tingginya pemakaian kendaraan pribadi. Bagaimana pemerintah provinsi menarik minat warga Jogja untuk beralih menggunakan jasa transportasi umum?



    Sepeda motor merupakan jumlah terbesar pengguna jalan di Yogyakarta, dengan jumlah mencapai 1,4 juta dan kenaikan sebanyak 100 ribu per tahun. Pemerintah provinsi mengaku kewalahan mengatasi ini. Namun, mereka tidak akan membatasi jumlah pengguna roda dua, karena ini berhubungan dengan tenaga kerja dan ekonomi.


    Alih-alih membatasi jumlah pengguna roda dua, pemerintah Jogja sedang berusaha mencari solusi lain, yakni menarik minat masyarakat agar lebih memilih transportasi umum, salah satunya Trans Jogja yang sistemnya mirip dengan Trans Jakarta.


    Dinas Perhubungan mulai tahun ini akan memberikan potongan harga tiket bus Trans Jogja bagi mahasiswa. Selain itu, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Yogyakarta Tjipto Haribowo mengungkapkan, pihaknya juga akan memasang Bus Rapid Transit (BRT). Sistem ini membebaskan bus Trans Jogja dari pengatur lampu lalu lintas, agar waktu tempuh bus sesuai dengan jadwal kedatangan.


    Ya kita menata manajemen traffic termasuk menyangkut penataan angkutan umum. Jadi bagaimana kita menaikkan kinerja angkutan umum sehingga masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi itu bisa pindah ke angkutan umum. Jadi 20 % saja angkutan pribadi pindah ke angkutan umum itu sudah lumayan dan mengurangi kepadatan. Nah, salah satu caranya adalah dengan Bus Rapid Transit.


    Soal rencana tadi, warga Yogyakarta pengguna sepeda motor, Kartika dan Ghofur akan tetap menggunakan kendaraan mereka daripada harus naik Trans Jogja. Menurut mereka, rute Trans Jogja lebih panjang dan memakan waktu yang lama untuk sampai ke tujuan.


    Jadi Cuma di titik-titik tertentu, trus kita jalan kaki lagi. Jadi banyak yang lebih milih motor, soalnya bisa langsung sampai di tempat tujuan. Paling titik perhentiannya yang harus diperbanyak, rutenya diperbaiki. Karena kalau misalnya jarak yang ditempuh pakai motor itu 15 menit, itu bisa 45 menit kalau pakai Trans Jogja, karena muter-muter. Jalur yang paling dekat dengan rumah saya itu perempatan, ke utara itu masih sekitar satu jam lagi. Jadi, yang pertama jalurnya harus lebih luas, yang kedua promosinya harus lebih masif lah.


    Beda dengan Nugroho. Dia bersedia meninggalkan kendaraan roda duanya asalkan Pemerintah serius merealisasikan rencana ini.


    Selama pemerintah mau serius membenahi fasilitas transportasi umum, ada kemungkinan orang-orang yang tadinya menggunakan kendaraan pribadi akan beralih ke transportasi umum. Selain itu, pemerintah juga harus sosialisasi ke masyarakat lebih intens agar masyarakat juga paham program yang mau direncanakan tersebut.


    Peneliti Pusat Kajian Transportasi dan Logistik PUSTRAL UGM Lilik Wahid menjelaskan, kemacetan di Yogyakarta disebabkan pemerintah daerah belum memiliki konsep jelas tentang sistem transportasi. Padahal diperlukan konsep yang jelas agar penyelesaian masalah kemacetan tidak hanya bersifat sementara, namun berkesinambungan.


    Menurut Lilik, Pemerintah Yogyakarta dapat menerapkan beberapa peraturan baru, antara lain aturan jumlah penumpang mobil, pembatasan kecepatan motor dan mobil, serta perbaikan layanan transportasi umum.


    Yang penting bagaimana kita menetapkan satu konsep dulu, karena transportasi selama ini dianggap sebagai bagian yang terpisah dengan yang lain. Jadi begini, Yogya itu mau kita bawa ke kota yang apa? Oleh karena itu, perlu adanya prioritasprioritas transportasi kepada yang membutuhkan. Dan dengan pendekatan itu maka kita tidak perlu membangun jalan lagi, karena jika membangun jalan pasti akan macet lagi. Nah, yang perlu dilakukan adalah memperbaiki angkutan umum.


    Sedangkan Direktur Bina Sistem Transportasi Perkotaan Kementerian Perhubungan Djoko Sasono menambahkan salah satu cara untuk meminimalkan penggunaan kendaraan pribadi adalah dengan menaikkan tarif parkir di pusat kota Yogyakarta terutama di jalan Malioboro. Menurutnya, nantinya tarif parkir motor dan mobil tidak lagi murah. Tarif yang biasanya berkisar antara Rp 1.000 hingga Rp 5.000 rencananya akan dibuat hingga Rp 50.000.


    Kita mengurangi keleluasaan, misalnya kita mempunyai motor yang bisa ke mana-mana, ya nanti parkir motor dimahalkan, jadi ada pilihan. Karena Yogya sebagai kota budaya , kota pendidikan, jadi transport itu harus memberikan nilai tambah kehidupan.


    Dipastikan dengan tarif parkir yang mahal, maka akan mengurangi jumlah kendaraan yang melewati pusat kota.

    Program lain yang penting dilakukan adalah kampanye dan pengenalan transportasi umum. Misalnya pengenalan kepada anak sekolah agar lebih memilih menggunakan transportasi umum. Terutama untuk siswa SMA.

    Audio : {audio}images/stories/audio_mf/120801-68h-kon-feb-lapit_bus rapid transit untuk kemacetan jogja.mp3{/audio}


    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News