• ??? ????
  • ??? ????
  • PELUANG BESAR INDUSTRI PENGOLAHAN LIMBAH ELEKTRONIK

    Tue,03 July 2012 | 17:49

       
     
    Tag

    Berton-ton limbah elektronik ditampung di pabrik daur ulang di wilayah industri Tuas Singapura untuk menghasilkan materi seperti besi, tembaga, plastik dan bahkan perak dan emas untuk dipakai ulang.
    Menurut Direktur Eksekutif Penjualan dan Marketing PT. Cimelia Resource Recovery, Fons Krist, konsentrasi logam berharga di dalam limbah elektronik lebih tinggi dari pada konsentrasi yang terdapat dalam bijih yang ditemukan di tambang.
    Krist mengatakan perusahaannya berharap bisa mendapatkan 150 gram emas dari satu ton Papan Rangkaian Tercetak (PCB), yang didapatkan sebagian besar dari komputer-komputer tua, perangkat keras dan peralatan elektronik lainnya.
    "Industri ini menarik dan masih tumbuh dengan sampah elektronik yang menjadi arus sampah padat yang bertambah pesat di dunia," kata Krist dalam wawancara dengan wartawan Xinhua, Chen Jipeng, sebelum inagurasi Pertemuan CleanEnviro Singapore.
    "Daur ulang elektronik dijuluki tambang perkotaan. Konyol jika kita tidak mendaur ulang dan menggunakan kembali sampah tersebut, namun itu harus dilakukan dengan benar," kata Krist.
    Industri yang Tumbuh
    Dibangun di area seluas 200.000 kaki persegi, pabrik Cimelia menjadi salah satu instalasi daur ulang logam berharga dan penanganan limbah elektronik terbesar di Singapura.
    Krist, yang telah bekerja di industri itu selama lebih dari 10 tahun, mengatakan ada beberapa perusahaan lain yang bergerak di bisnis yang sama namun hanya sedikit dari mereka yang bisa mendaur ulang logam berharga seperti emas, perak, platina dan paladium.
    Cimela juga berpartisipasi dalam Pertemuan CleanEnviro Singapura yang digelar 1-5 Juli, bersamaan dengan Singapore International Water Week dan World Cities Summit.
    Penanganan dan daur ulang sampah saat urbanisasi meningkat di seluruh dunia menciptakan tantangan baru sekaligus peluang-peluang karena memunculkan solusi, yang belum bisa diciptakan di masa lalu, kata Direktur Pusat Teknologi Lingkungan Internasional dari Progam Lingkungan PBB pada diskusi panel di CleanEnviro Summit Singapura.
    Sedangkan menurut CEO Veolia Environmental Services, Jerome Le Conte, sekitar 80 persen penduduk dunia akan tinggal di wilayah perkotaan pada 2050. Angka tersebut meningkat 50 persen dari jumlah penduduk perkotaan di masa sekarang.
    Veolia merupakan salah satu dari Industri terkemuka Singapura yang bergerak di bidang pengumpulan sampah padat dan pelayanan industri serta mengoperasikan fasilitas daur ulang material dan pengolahan limbah berbahaya.
    Perusahaan tersebut melakukan daur ulang baterai lithium sesuai dengan regulasi sehingga menawarkan potensi besar seiring meningkatnya tren penggunaan mobil elektrik, kata Le Conte.
    Dowa Eco-System, perusahaan yang berbasis di Jepang, juga mengoperasikan pabrik di Singapura untuk memperoleh kembali logam berharga non-besi.
    Ramah Lingkungan
    Pabrik Cimelia telah meraih sertifikasi ISO 9001, 14001 dan OHSAS 18001. Salah satu fitur keamanan pabrik tersebut adalah sistem pemantauan on-line untuk tingkat bahaya gas di dalam pabrik, di mana para pekerja diharuskan memakai masker ketika bekerja melibatkan bahan kimia beracun.
    Untuk mendapatkan kembali logam berharga, Cimelia pertama menggunakan mesin penghancur untuk mengurangi ukuran dari PCB dan memisahkan bagian-bagian berbeda yang digunakan untuk proses pembaruan.
    Logam berharga yang ditampung di dalam papan kemudian dilarutkan dalam cairan larutan. Proses itu sering melibatkan penggunaan bahan kimia seperti asam dan sianida. Hal itu juga merupakan proses yang membedakan pabrik berlisensi seperti milik Cimelia dengan sejumlah pabrik lainnya.
    Para pengumpul sampah dan pendaur-ulang harus mempunyai lisensi di Singapura.
    Agen Lingkungan Hidup Nasional bertanggung jawab penuh terhadap perencanaan, pengembangan dan pengelolaan fasilitas dan operasi pembuangan sampah termasuk pemberian lisensi dan peraturan tentang pengumpulan sampah padat dan pembuangan illegal.
    "Kami harus mempunyai kemampuan termasuk aspek keselamatan lingkungan untuk menjadi pendaur-ulang tersertifikasi untuk barang elektronik," kata Krist.
    Perusahaan itu tidak hanya memperhitungkan keselamatan pekerja namun juga lingkungan dengan proses pengolahan limbah cair dan kimia yang layak. Untuk pemrosesan "barang-barang putih" seperti lemari es, perusahaan itu juga memperhatikan bagaimana caranya menampung CFC yang berbahaya bagi atmosfer dan memastikan bahan kimia tersebut ditangani dengan baik.
    "Pengolahan air kami diawasi oleh PUB (Agen perairan Singapura). Jadi jika melewati ambang batas, maka akan ditutup. Kami tidak mempunyai emisi," kata Krist.
    Sebagian besar bahan mentah di Cimelia tidak berasal dari limbah rumah tangga karena barang-barang elektronik yang tidak terpakai di Singapura bisa mempunyai umur di pasar setempat. Barang-barang tersebut berasal dari klien perusahaan yang ingin limbah elektronik mereka dibuang secara aman dan tidak mencemari lingkungan.
    Negara kota tersebut tidak terlalu memberi perhatian untuk memisahkan sampah elektronik dari sampah padat ketika dibuang di tempat sampah.
    Tidak seperti di Eropa, Jepang dan Amerika Serikat di mana perusahaan harus mengeluarkan biaya agar peralatan yang telah berakhir masa penggunaannya didaur ulang, Cimelia tidak membebankan biaya untuk layanan tersebut. Perusahaan tersebut bergantung pada kemampuan untuk mendapatkan kembali benda berharga dari material bekas tersebut.
    Pasar China
    Para pemain besar di industri seperti Dowa juga membidik China, di mana pemerintah setempat telah mengumumkan bahwa para produsen dan importir akan dikenai biaya daur ulang untuk setiap peralatan rumah tangga seperti televisi, mesin cuci, lemari es dan pendingin ruangan serta komputer mulai 1 Juli.
    China dengan cepat menjadi salah satu penyumbang limbah elektronik terbesar di dunia. Namun, bagian-bagian penting dari limbah elektronik yang berasal dari belahan dunia yang lain dibongkar di China, India, dan sejumlah negara Afrika karena biaya tenaga kerja yang rendah.
    Negeri Tirai Bambu itu telah berusaha untuk membuat peraturan tentang industri daur ulang sampah elektronik dan mempromosikan pertumbuhan para pendaur-ulang yang ramah lingkungan, namun tantangan tetap ada.
    Laporan tentang air yang tercemar di Guiyu, kota di provinsi pesisir Guangdong di China bagian selatan, telah menjadi sorotan pada masa lalu.
    Krist mengatakan masalah dari pembongkaran produk elektronik di China sering berasal dari kurangnya prosedur yang tepat atau karena alasan pencemaran lingkungan.
    Sejumlah pabrik sederhana menggunakan bahan kimia untuk melarutkan logam berharga dari papan sirkuit namun membuang bagian yang tersisa dan meninggalkan sisa bahan kimia.
    Para pekerja di sejumlah pabrik hanya memanaskan komponen elektronik di atas api untuk melepaskan bagian-bagian yang berharga.
    Presiden Dowa Eco-System Kenichi Sasaki mengatakan langkah pemerintah China akan berdampak bagus bagi pertumbuhan perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan limbah elektronik.
    "Masalah terbesar bagi kami adalah kepastian pasokan material. Akan tidak bagus jika kami harus bersaing dengan mereka yang bekerja secara ilegal," kata Krist.
    Ketika California menerapkan peraturan Bea Daur-ulang CRT (Tabung Sinar Katoda) pada 2004, terjadi lah ledakan besar dalam ajang daur ulang elektronik dan sejumlah pendaur-ulang elektronik yang terkemuka muncul dari sana, kata dia.
    Kesalahpahaman
    Krist mengatakan telah terjadi kesalahpahaman tentang pandangan bahwa limbah elektronik berbahaya.
    "Ada persepsi yang salah tentang limbah elektronik beracun.... Bahkan dalam pembongkaran secara manual, tidak ada hal yang berbahaya di dalamnya," kata Krist.
    "Ada beberapa bahan berbahaya di dalam limbah elektronik, namun material tersebut menjadi bahaya saat kalian memulai proses daur ulang atau pembaruan yang tidak dilakukan dengan tepat dan tanpa memperhatikan kesehatan dan keselamatan serta perhatian terhadap keselamatan lingkungan," kata Krist.
    Menurut Krist, jika upah buruh rendah, cara paling tepat untuk mendaur ulang limbah elektronik adalah untuk melakukannya secara manual sehingga memungkinkan proses pemisahan paling bersih dari segala materi seperti logam, plastik, dan PCB. Setelah tahap pertama pemisahan, material tersebut bisa dilanjutkan ke proses daur ulang selanjutnya.
    Di Eropa, limbah elektronik dimasukkan ke dalam mesin penghancur dan sebagai hasilnya banyak teknologi yang diterapkan untuk memisahkan kembali material setelah proses penghancuran.
    Campuran plastik adalah salah satu masalah utama karena hanya ada sedikit teknologi yang bisa memisahkan campuran berbagai tipe plastik yang berbeda.
    Enviro Hub, perusahaan induk Cimelia, mempunyai larutan yang bisa merubah campuran plastik menjadi bahan bakar.
    Walaupun ada peraturan WEEE (Limbah Peralatan Elektronik) di Eropa, banyak juga terjadi kebocoran dari sistem tersebut karena sejumlah bagian berharga hilang dari sistem.
    Sebagai contohnya adalah di Singapura, ada sejumlah lemari es yang sering masuk ke pabrik Cimelia namun kompresornya telah disingkirkan oleh pihak yang tidak berwenang.
    "Kami hanya mempunyai pabrik di Singapura yang lengkap untuk mengumpulkan CFC yang berbahaya dan memastikan bahan tersebut ditangani dan dibuang dengan baik," kata dia. (Uu.Xin/A059/
    (UU.A059/B/Z003/Z003) 03-07-2012 17:40:51 NNNN

    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News