• ??? ????
  • ??? ????
  • Mencerdaskan Perempuan Lewat Sinetron

    Tue,22 May 2012 | 19:40

       
    Tag

    Mencerdaskan Perempuan Lewat Sinetron

    Berbagai kebetulan dan kesempatan kian membawa Mia Amalia ke arah cita-cita masa kecilnya: menjadi penulis skenario. Dengan percaya diri dan kerja keras ia meniti jalannya, meskipun banyak aral merintangi jalan perempuan berstatus orangtua tunggal dengan 4 anak ini. Namun, garis tangannya sudah menentukan. Penulis serial televisi Kepompong yang mendapat penghargaan Sinetron Remaja Terbaik 2009 dari Forum Film Bandung dan Program Remaja Terbaik 2010 dari KPI ini kian mantap dengan profesinya sebagai penulis lepas skenario televisi. Baru-baru ini pun ia terlibat dalam penulisan sebuah buku mengenai suka-duka menjadi seorang perempuan berstatus orangtua tunggal. Apa sesungguhnya tujuan Mia dalam berkarya dan dalam kehidupan?

    Apa yang menginspirasi Mia kecil sehingga bercita-cita menjadi penulis skenario? Bagaimana pula awal keterlibatan Anda di industri sinetron Indonesia?
    Saya suka sekali dengan film The Sound of Music. Setelah sering menontonnya di TVRI, saya bertekad menjadi penulis skenario film jika sudah besar. Padahal waktu itu tak tahu dan belum terbayang pekerjaannya seperti apa. Beranjak dewasa saya seakan menjauh dari cita-cita itu karena sama sekali tidak memiliki akses ke industri maupun sekolah film. Boro-boro kuliah di IKJ, masuk fakultas sastra saja tak diperbolehkan orangtua. Karena hobi menulis, saya pun nyolong-nyolong. Saya setuju berkuliah di FISIP seperti saran Ibu, tapi saya ambil jurusan komunikasi massa, bukan humas seperti yang diinginkannya. Di bangku kuliah keterampilan menulis saya terasah. Awal terbukanya jalan ke dunia penulisan skenario terjadi di tahun 2000-an, waktu saya bekerja di Majalah Djakarta! Dalam suatu acara saya bertemu seorang penulis skenario yang kemudian malah menawari saya membantunya. Menurutnya, saya punya modal menjadi seorang penulis karena sering membuat kalimat-kalimat celetukan yang cerdas dan terkadang lucu. Saya lantas menjadi co-writer sambil berlatih menulis.

    Pintu saya masuk ke industri sinetron Indonesia adalah ketika saya berkenalan dengan seorang produser, Arswendy Nasution. Kami beberapa kali tak sengaja bertemu di berbagai pertunjukan seni dan mengobrol, lalu saya diundang ke kantornya dan diberi kepercayaan menulis serial pertama saya, Impian Natasha. Sinetron ini merupakan serial musikal anak yang diperankan oleh Natasha, seorang penyanyi cilik, dengan lagu-lagu yang diambil dari albumnya. Animo terhadap sinetron ini cukup bagus, sehingga saya kembali diberi kepercayaan menulis di serial Aku Bukan Rio, yang mendapat penghargaan Sinetron Remaja Terpuji 2004 oleh Forum Film Bandung.

    Ketika sama-sama menghadiri ulang tahun Tempo, Arswendy Nasution memperkenalkan saya kepada Ram Punjabi. Diperkenalkan sebagai seorang penulis skenario, saya diundang beliau ke markas Multivision keesokan harinya, dan langsung ditawari kontrak eksklusif 112 episode dengan jadwal tayang mingguan. Karena sudah menjadi impian sejak kecil, saya memutuskan keluar dari Majalah Djakarta! dan menjadi penulis lepas skenario televisi. Tindakan ini bukan tanpa pertimbangan. Dengan nilai kontrak yang lumayan besar, pekerjaan ini bisa menghidupi saya yang saat itu sudah punya dua anak.

    Apa yang Anda sukai dari profesi ini?
    Lewat profesi ini saya bisa menulis cerita tentang berbagai gagasan. Lebih dari itu saya selalu ingin melakukan pekerjaan yang bisa dinikmati anak-anak saya. Sesuatu yang mereka bisa lihat, sukai, dan banggakan ke teman-temannya. Saya juga senang kalau cerita saya bisa menginspirasi penonton. Seperti serial terakhir yang saya tulis, Kepompong, bercerita tentang persahabatan. Walau serialnya sudah berakhir di akhir tahun 2000, hingga kini fansnya masih suka bertemu, bahkan mereka membuat tabloid swadaya. Ada pula remaja yang bikin geng dengan nama 'De Rainbow' (nama geng di sinetron Kepompong), atau 'Kepompong', dan mempraktikkan semboyan persahabatan ala De Rainbow. Ketika bertemu para peserta lomba mengarang dengan tema persahabatan yang diadakan SCTV untuk penggemar serial Kepompong, rasanya luar biasa bangga dan senang sekali mengetahui karya kami disukai banyak orang.

    Adakah kontribusi pendidikan bagi masyarakat dan lingkungan yang Anda lakukan lewat profesi ini? Apa concern terbesar Anda dalam berkarya?
    Saya selalu menulis cerita yang jika ditayangkan dapat ditonton oleh keempat anak saya. Mereka adalah concern terbesar saya menjalani profesi ini. Karakter dalam tulisan-tulisan saya juga haruslah sosok yang berdaya, bukan yang cengeng dan cuma bisa meratap, menangis, dan tertindas tanpa daya. Terlebih jika karakternya perempuan, saya akan tampilkan karakter yang dapat menjadi panutan bagi penonton. Saya ingin karya saya ikut mencerdaskan masyarakat, terutama perempuan. Sejak tahun 2004 saya menangani banyak sekali sinetron, sehingga saya mulai membentuk tim penulis. Banyak anggota tim yang sama sekali belum punya pengalaman menulis. Jadi saya memberikan workshop kepada mereka. Sampai sekarang mereka masih berprofesi sebagai penulis skenario, baik secara mandiri maupun dalam tim saya.

    Sebuah buku dengan tema yang cukup kontroversial, The Single Moms, yang bercerita tentang suka-duka menjadi perempuan berstatus orang tua tunggal, baru saja terbit. Bagaimana Anda bisa terlibat?
    Saya sekadar ingin berbagi pengalaman dan idealisme. Terlebih posisi saya unik karena saya pekerja lepas (freelance) yang pendapatannya fluktuatif, dengan tanggungan 4 anak. Melalui sharing di buku ini saya ingin masyarakat mengetahui bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi yang harus dihadapi. Meskipun menjadi orangtua tunggal tidak sama--bahkan tidak serupa--dengan keputusan saya untuk menjalani profesi penulis lepas, namun bukan menjadi alasan untuk meratap dan tidak maksimal menjalani hidup. Hidup adalah anugerah,  kita tak butuh alasan untuk bahagia. Apalagi sebagai perempuan kita harus hidup sebagai makhluk yang berdaya, jangan hanya bergantung pada orang lain bahkan ketika sudah menjadi istri dan ibu. Saya berharap kisah saya menjadi inspirasi bagi pembaca bahwa sebagai perempuan, lajang atau berpasangan, sebaiknya kita berdaya atas pilihan hidup kita. Sebagaimana pegangan hidup saya selama ini: live deliberately, not desperately. (Teks: Ciptanti Putri/Foto: dok. pribadi)


    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News