• ??? ????
  • ??? ????
  • Usaha Pengungsi Rohingya Beradaptasi Dengan Kehidupan Baru Di Kota Sorsele

    Mon,16 April 2012 | 17:58

       
     
    Tag

    Inilah suasana di Sorsele pada akhir bulan Maret. Kota kecil ini terletak di bagian utara Swedia, sekitar 100 kilometer dari lingkaran kutub. Suhu di luar mencapai minus 15 Celcius.

    Meski sekarang sudah pukul 8 pagi, matahari baru tampak. Sementara itu, anak-anak Rohingya berangkat ke sekolah, berjalan di atas salju setebal sekitar satu meter. Mereka berlari di atas jalanan ber-es itu.

    Suasana ini memang jauh berbeda ketimbang kamp pengungsi yang kumuh, yang menjadi tempat tinggal mereka sebelumnya di bagian selatan Bangladesh. Di sana, di sepanjang jalanan ke sekolah, mereka harus melewati saluran pembuangan kotoran yang terbuka.

    Kini, wajah Anwara, 10 tahun nyaris tak kelihatan karena memakai baju hangat atau penutup kepala yang tebal. Ia mengatakan, setiap hari, tak sabar pergi ke sekolah.

    Sekolah, tempat yang menyenangkan. Kami bisa menggambar dan menggunakan komputer. Tapi belajar bahasa Swedia itu, susah. Saya belum punya teman dekat, karena belum bisa berbicara dengan mereka. Tapi sebentar lagi, saya yakin pasti bisa.

    Dalam satu ruangan kelas khusus terpisah dari para pelajar Swedia, tujuh anak pengungsi yang berusia delapan hingga empat belas tahun berkumpul. Empat di antaranya adalah anak Rohingya, dua dari Afghanistan dan satu anak laki-laki asal Somalia. Selama tiga bulan terakhir mereka hanya belajar tentang Swedia.

    Belajar bahasa Swedia tentu bakal membutuhkan waktu yang lama kata koordinator pengungsi, Sara Johansson.

    Mereka kesulitan belajar bahasa Swedia, tapi sekarang sudah ada kemajuan. Mereka ambisus juga loh. Orang dewasa lebih susah lagi belajar bahasa itu. Saya tidak tahu kapan mereka bisa benar-benar bisa membaur dalam masyarakat Swedia. Mungkin itu tidak akan pernah terjadi.

    Nur, anak perempaan Rohingya berusia 15 tahun selalu telat masuk kelas. Pasalnya bulan lalu, ia terjatuh dari jendela apartemennya di lanti dua, dan kedua kakinya patah. Dalam masa penyembuhan ini, ia harus dibantu orang lain naik, turun tangga dan diangkut masuk ke dalam mobil. Tak ada yang tahu mengapa Nur bisa jatuh dari jendela, dan ia pun enggan bercerita.

    Sara Johansson menuturkan penyesuaian ini tergolong sulit bagi semua orang Rohingya.

    Selama dua minggu pertama mereka syok dan menangis, karena ingin pulang lagi ke kamp pengungsi di Bangladesh. Ini juga terjadi pada Nur. Kami masih tidak tahu bagaimana dan kenapa ia terjatuh.

    Sebelumnya, sejumlah warga setempat mengganggu mereka. Beberapa hari lalu, sekelompok lelaki ABG berkumpul di luar apartemen orang Rohingya. Mereka meneriakkan kata-kata kotor, membuka celana serta memamerkan bokong mereka.

    Polisi segera menghentikan hinaan para lelaki itu, dengan mengawasi daerah tersebut selama beberapa malam. Di Sorsele sekitar 40 persen penduduk menganggur, dan karena para pengungsi diberikan tempat tinggal gratis serta fasilitas lainnya, membuat warga setempat iri hati.

    Kembali ke sekolah, kini waktunya makan siang. Anak-anak mengantri di kafeteria dan mendapatkan makanan bergizi tinggi berupa sup daging dan kentang.

    Di gedung lainnya, para pengungsi dewasa bejuang belajar bahasa Swedia. Kelas ini wajib, persyaratan untuk mendapatkan santunan kesejahteraan dari pemerintah.

    Namun Alam, ayahanda Anwara, tak ambil pusing. Padahal ia sudah 40 tahun dan belum pernah duduk di bangku kelas.

    Saya sudah merasa lebih baik sekarang ketimbang beberapa bulan lalu, ketika kami baru tiba. Saat itu sangat tidak menyenangkan dan dingin. Kami terpaksa meninggalkan semua saudara dan teman kami. Kadang kami menelfon mereka dengan HP yang dikasih kepada kami, jadi sekarang ini keadaannya sudah lebih baik. Bahasa Swedia sangat susah, tapi saya coba belajar terus. Tampaknya, kami masih lama tinggal di sini. Jadi, saya harus belajar bahasa Swedia.

    Kepala keluarga Ahmed yaitu Sabbir tengah sibuk mencincang daging di dapurnya, sementara yang lainnya memotong bawang.

    Para pendatang baru ini jarang sekali bertemu dengan komunitas lokal Sorsele. Jadi koordinator para pengungsi, Sara Johansson, mengadakan satu pesta di aula gedung pertamuan masyarakat. Ia meminta orang Rohingya, Tamil, Somalia dan Afghanistan memasak hidangan favorit mereka, yang bakal dicicipi oleh warga lokal Swedia. Sebagai gantinya, warga lokal-lah yang akan mengadakan hiburan.

    Sabbir sangat senang.

    Baru kali ini, saya bisa bertemu dengan begitu banyak orang Swedia di satu tempat. Kami sudah masak sepanjang hari, jadi semoga mereka suka dengan makanan yang kami sudah siapkan.

    Warga lokal mulai memadati aula. Sabbir dengan semangat, berdiri di belakang meja kecil. Sementara itu sekelompok orang Swedia berdesakan mencoba makanan Rohingya yaitu sop ikan pedas, semacam rendang dengan bayam, bawang dan tentunya nasi.

    Sementara itu Jusef dan Anwara baru saja selesai memasang bendera Burma di dinding, di belakang meja itu. Sambil makan rendang, Mats Nilsson, fotografer lokal berkomentar soal orang Rohingya.

    Sebelumnya kami sudah pernah kedatangan pengungsi lainnya dari negara-negara lain. Seperti Kolombia, Afghanistan dan negara lainnya. Saya tidak ada masalah dengan ini. Tapi kalau tinggal di desa kecil seperti di Sorsele dan ada acara seperti ini, dunia kami terasa semakin luas. Sorsele tempat yang kecil, dan pengalaman ini tergolong eksotis.

    Setelah makan malam, anak-anak Swedia mengadakan pertunjukkan hip hop.

    Awalnya Jusef, Anwara dan anak Rohingya lainnya masih malu-malu. Karena mereka sebelumnya tak pernah melihat kegiatan ini. Lalu salah satu guru sekolah mereka, mengambil tangan Anwara dan menariknya ke lantai dansa. Beberapa detik kemudian anak-anak lainya ikut menari hip hop bersama anak Swedia. Sabbir bahkan mengambil foto mereka dengan HP-nya.

    Saya harus mengirim foto-foto ini kepada saudara-saudara saya di kamp pengungsi. Mereka tak bakal percaya. Biasanya saya tidak mengizinkan anak-anak menari seperti ini dengan orang-orang yang tak dikenal. Tapi sekarang keadaan sudah berbeda, karena kami tinggal di Swedia.

    Di luar gedung, salju terus berjatuhan. Tapi di dalam aula pusat masyarakat Sorsele, suasananya justru mulai menghangat. Jusef berdansa dengan gurunya. Tampaknya, bahasa universal musik dan tari, menyatukan mereka semua di tempat itu.

    Be Social with IYAA

    1/300

    Kirim Komentar

    Coba bilang "IYAA~~~"

    Headline News